Puisi-Puisi Achmad Hidayat Alsair

Achmad Hidayat Alsair
Jantan?

Aku Amerika di motif pakaian dalam
menciut dalam liar kawanan babi buta
kuanggap pasir pantai adalah ruang imajinasi
tersesat usai membaca selebaran malam cekam
merawat percakapan dengan cara paling gegabah

Aku Rusia dalam jubah bulu tebal beruang hamil
putih singkapi merah dada, aliran nadi terlalu beku
potret bukit bersalju ialah sinonim kesepian
di balik saku baju tersedia seribu kepalan kering
tidak pernah sempat dipakai, lebih sering menggigil

Aku lupa belajar merawat gelegak pusat berahi
atau menatap dengan alis mata menukik
atau mencatat macam-macam sarkas
atau menyusun rinci rencana perkelahian
atau mengendarai malam tanpa menjaga jarak

Apa aku masih jantan?
Seseorang berteriak: Berdirilah! Tapi jangan lupa pakai celana!

(Makassar, 2016-2017)

 Achmad Hidayat Alsair
Aku Merah, Sebenarnya Merah

Pagi menyulut tubuhku dengan cerawat, begitu nyalang
suara gelora serempak membahana, mengangkasa
menembus batas hingga ujung cakrawala
merah, dan hanya merah memancar di pandang

Rel kereta api memanas oleh tempaan mega
di bawah kangkangan cerobong asap industri
dan jalanan tak ubahnya arena para ksatria
ribuan kaki lelah usai kerja seharian jadi saksi mata
Taman kering lakonkan mimpi paling belia
tragedi hingga terpuruk, pelengkap riwayat drama
akhir jalan cerita bahagia atau tangis paling parau
getir hingga tangis, merawat pergulatan hingga letih
Aku merah, begitu merah
puluhan ribu denyut dalam satu auman paling merdu
Aku merah, sebenarnya merah
siap diarak menuju rumah, kembali menambal kawah di wajahku

(Makassar, September 2016)

Achmad Hidayat Alsair
Bukan Kembaran Bandot

Aku binatang tanpa kandang
rumah-rumah kudatangi mencari kasur atau bantal
Aku binatang kurus kurang daging
menyantap santunan tanpa mengucap permisi
Aku binatang yang bebas dan merdeka
tidak pernah masuk antrian saat Pemilu
Aku binatang yang mengumpat sembarang tempat
mulutku sekolah tapi belum tamat
Aku binatang berlabel jantan
sementara negara meledekku karena belum punya janggut
Aku binatang penantang matahari
padahal kehilangan tanduk sekaligus dengus beringas
Aku binatang yang merayakan malam
merawat puisi di antara dengkur dan bunyi listrik hampir habis

Di bawah lampu dapur, aku bertopang dagu
mencari kursus mengembik paling murah
Kuakui, aku binatang kesepian
Mungkin sebaiknya periksa ponsel dulu
memandang wajah yang kini menjauhi peraduan

(Makassar, 2016-2017)

Achmad Hidayat Alsair
Profil Singkat

Menyebut namaku adalah rutinitas tukang tenung sekaligus rentenir kerabatnya. Karena itu jangan panggil aku di majelis atau menulisnya di absensi kelas.

Setiap hari kota ingatanku dilanda badai, memukul-mukul otak kiri hingga migrain. Karena itu jangan hubungi aku kecuali jika telah lewat pukul dua belas malam.

Mimpiku serupa film-film Quentin Tarantino, tanpa narasi dan alur waktu paling waras. Karena itu jangan bicara denganku sebelum kucatat apa judulnya.

Wajahku pernah terselip di antara testimoni pekerjaan, sebelum semangatku pudar oleh kebijakan negara. Karena itu jangan simpan potretku entah yang berwarna atau monokrom.

Asmaraku terlalu picisan bahkan untuk novel bertema patah hati di rak “Best Seller” sebuah toko buku. Karena itu ruangan cinta terkunci rapat serta kusemat stiker peringatan bahaya limbah radioaktif.

Sudah jelas? Kalau begitu mari berteman. Aku tahu kedai kopi murah di sekitar sini.

(Makassar, Mei 2017)

 

 


Achmad Hidayat Alsair. Lahir di Pomalaa, 15 Mei 1995. Mahasiswa tingkat akhir di jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Hasanuddin Makassar. Sedang gandrung menulis fiksi dan menghindari topik pembicaraan skripsi. Karyanya pernah dimuat di sejumlah surat kabar, situs sastra daring dan beberapa buku antologi puisi bersama.

Iklan