Puisi-Puisi Afrizal Malna

Afrizal Malna
Surat Dari Biji Kopi

Bau kopi keluar dari napasnya, seperti jalan lurus yang
bagian belakangnya menghilang. Ia duduk di bagian
belakang dari bau kopi itu. Biji-biji kopi itu membuatnya
Ingin bergerak, antara air yang mendidih dan suhu
yang tak terukur dalam pikirannya. Bau kopi ini untukmu
Menangis, dan membiarkan kenangan membuat bingkai
bingkainya sendiri pada sisa kopi di dasar cangkirnya. Dan
ia kembali duduk di bagian belakang bau kopi, sisa hangat
antara pahit dan manis di lidahnya. “Cinta”, dia seperti
ingin jatuh, telungkup dan menggenggam semua yang
berjatuhan dari biji-biji kopi. Kapal-kapal yang bergerak
sendiri mencari bau kopi, kuburan petani kopi, cerita yang
saling mengunjungi dan menghapus pasir di pantai. Bau itu
mengikatnya lebih dalam dari semua yang mengabur di
depannya, dari semua yang menghilang di belakangnya
Afrizal Malna
Proses Letupan Kapur Sirih
Batu kapur sirih mulai direndam dengan air. Bentuk
bentuknya yang seperti batu karang itu mulai
mengeluarkan asap dalam genangan airnya, dan genangan
uap di atasnya. Bentuk-bentuknya mulai luruh, seperti
bukit-bukit melelah dan letupan-letupannya. Akan muncul
permukaan kapur yang sudah berubah menjadi lumpur
putih dan lembutnya yang panas. Lumpur kapur dalam
gelembung-gelembung berasap, suara mendidih dan
letupanya menggenggam uap panas hingga ke ujung
lidahku. Seperti akan nada yang meledak dalam lumpur
kapur itu, dan mengusir bayangan hitam dari letupannya.
Proses ini akan berhenti dan seluruh batu kapur berubah
menjadi lumpur kapur putih kental. Uapnya menatap
dinding-dinding bayangan hitam. Tangan dan kakiku
menggenggam letupan-letupan uapnya. Dan lidah yang tertelan
bayangan hitam.kapur ini panas. Kulit jari-jari tangan
biasanya akan melepuh. Rasa perih dari kulit yang
mengelupas, mengeluarkan kutu-kutu yang mati di
dalamnya. Melepaskan jiwa yang tak bisa lagi terharu,
yang terlalu percaya kepada ketukan pintu dan
membisukan dering telfon. Proses yang menggodaku untuk
mengangkat kamar tidur dan meletakkannya dalam amplop
surat bersegel. Pekerjaan yang rasanya tidak ada gunanya,
tetapi aku melihat proses letupannya ketika melepaskan
tekanan udara panas. Mulut puisi yang memuntahkan
percakapan tentang kepergian. Kamar tidur yang
menyimpan bayangan tentang pelukan dan terhisap letupan
kapur sirih. Satu botol bayangan pintu. Satu botol kapur
sirih. Keduanya mengecat mimpiku menjadi sebelum
bermimpi
Sumber : Koran Tempo 25 Maret 2012
Iklan