Puisi-Puisi Ela Tamami

Ela Tamami
Aku Hanya Penulis Puisi

Aku hanya penulis puisi,
Apalagi yang kau cari?
Abu dari sisa rokok terakhirku,
Atau berat suara dengkurku?

Aku hanya penulis puisi,
Gudangnya segala inspirasi,
Dari yang liar hingga yang binal,
Bisa kau temui dalam diriku yang berbingkai sensasi…

Aku hanya penulis puisi,
Di bawah temaramnya lampu dan loteng kayu,
Dibatasi dinding kayu yang lapuk,
Dan beralaskan lantai berlumut…

Aku hanya penulis puisi,
Bisa hidup dua tiga hari dari berseni,
Lalu menggapai-gapai lautan waktu yang rapi,
Mengiris-iris hati yang tergulas sepi,
Nampak cemberut hati…

Aku hanya penulis puisi,
Yang hidup dari sisa nasi dan lauk basi,
Karena aku tak punya apa selain hati,
Tempatnya kedalaman imajinasi,
Malamku berhutang janji…

Aku hanya penulis puisi,
Apalagi yang ingin kau ketahui?

31 Mei 2017

Ela Tamami
Semua Harus Keluar Malam Ini

Semua harus keluar malam ini,
Di panggung-panggung mini seribu episode,
Sebagai orang asing atau pelakon sejati,
Mencipta watak dalam ruang dimensi imaji,
Melakon dalam pentas lepas penat…

Segala musti keluar malam ini,
Ke jalan-jalan lengang atau danau muara sampah,
Menyublim diri dari dingin dan rapuh dunia,
Aku dan kepala yang tak henti mencerca

Kepalaku hanya satu,
Sudah untuk membayang seluruh semesta,
Dan waktu yang penuh dengan ambisi untuk diisi,
Kenangan terjatuh berbuah rindu…

Rindu, rindu, rindu, minta dicumbu!

Aku berdiri di persimpangan jalan yang hanya hidup dalam otak kecilku,
Dan kau kukhayal utuh, memeluk letih tubuhku dari perjalan panjang tanpa ujung,
Lelehkan kebekuanku dalam hangat selaksa cahayamu,
Dari cinta yang benar-benar tak kusadari hadirnya ada,

Sebelum jauh,
Sebelum pisah,
Sebelum sirna,
Dan kini akupun lelah…

Dipermainkan otakku yang menuntut penuh,
Untuk diikuti,
Untuk disembah,
Untuk dilayani,
Sedang adaku sudah tak utuh…

Perjalanan tak pernah menemukanku dalam jejaknya,
Sedang lakon demi lakon terus kuperankan dalam panggung yang sama,
Hingga letih aku minta lari menuju muara penjuru keluh kesah,
Dibalut udara dingin yang menggerogoti tulang belulang,
Lalu aku merasa hanya perlu berjalan saja,

Aku ingin sudahi ini,
Memainkan skenario sampah dengan tema dan konflik yang sama,
Namun aku tak jua dapat melebur,
Menjadi orang asing meski tampak sangat berdikari,

Aku ingin pulang,
Menuju kampung yang kekal,
Di penghujung petang,
Bercerita panjang,
Tentang hidup yang kerontang,

Yogyakarta, 31 Mei 2017

 


Ela Tamami, nama pena dari Listri Laila Tamami, kelahiran Sumbawa, 20 September 1994 lalu. Tinggal di Lingk. Muhajirin III, RT/RW: 002/004, Kel. Bugis, Kec. Taliwang, Kab. Sumbawa Barat, Prov. Nusa Tenggara Barat. Kode pos: 84455 dan bisa dihubungi di nomor ponselnya 085 743 029 119

Iklan