Puisi-Puisi Maulida Rahman Siregar

Maulida Rahman Siregar
Celana

celana yang kau pakai dan celana yang kusobek, adalah celana itu juga, saat kau bilang, “ah, celanaku kesempitan, hingga apa yang ada di dalam celana, melompat, memberi tahu bahwa selain untuk sesuatu yang bergerak di dalam celana, kehidupan mesti menyelamatkan yang di atas celana, dengan nasi misalnya.” jangan sebut puisi dahulu, kita sedang membahas celana, celanaku, celanamu, celana kita semua, “celana, celana siapa sih yang ingin menggapai celanaMu tanpa pakai celana?” kau bertanya sambil pakai celana, dan lari membeli celana
ke pasar celana

2017

Maulida Rahman Siregar
Ada yang Diam dalam Celana

Malam minggu berdarah di celanamu.
Kau marah-marah sejak pagi.
Anak orang kau bilang anjing.
Anak anjing kau suruh baca buku.
“Anak, anak apa yang durhaka setiap hari?” katamu.
Bukan anakku, kataku.

Kau turun dari motor. Naik angkot ke Jakarta.
Tapi, sopir angkot bilang kau harus turun
di Teluk Bayur. Naik kapal kalau ke Jakarta.
“Aku ingin naik angkot seumur hidup,” katamu.
Orang gila, kata sopir angkot.

Dibilang gila, kau minta aku menjemputmu,
kalau tidak akan kau sebrangi laut,
kau mau ke Jakarta. Dua-tiga pulau akan kau
sebrangi, katamu.
Kubilang, tunggu aku. Aku ingin berenang bersamamu.
Aku sedang menyiapkan dua baju renang.
“Apakah kau hendak mengenakan baju renang syar’i?”

Kau mau berenang telanjang, katamu.
Pasti, pasti aku menjemputmu, kataku.

Dengan bensin motor yang sudah ke tengah.
Aku sampai di Teluk Bayur, tapi kau sudah tak ada.
Aku bertanya pada nelayan,
“Adakah bapak-bapak sekalian, melihat bidadari
yang sedang tersesat?”

Bapak-bapak nelayan bilang, tadi ada orang gila
melompat ke laut. Ciri-ciri rambut sebahu,
hidung sempit, dan tidak pakai baju.

Ya Allah, apa mencintaimu harus seiseng itu?

2017

Iklan