Puisi Wawan Kurn : Ode kepada Topeng

Wawan Kurn
Ode kepada Topeng

I

seseorang bukan aku namun tetaplah aku mulai mencatat mimpi
ada malam pecah sehabis tidur gagal merekam cemasku
lekas ada bekas luka menganga di batin manusia yang mati

pintu kamar merah tertutup rapat dan di sisinya ada sejumlah buku
tak perlu ada isyarat untuk membuka segala yang sembunyi
waktu hanyalah seekor kucing belang kecil, ia berjalan dengan kaku

di dinding putih ada topeng warna-warni pemberian sunyi
hari datang setiap pagi mengajariku menjadi tiada
di luar sana, mereka pulang dengan sedih sembari bernyanyi

halaman rumahku di penuhi ksatria bertombak berkuda
tubuhku jadi kotak datar menurun pecah di teka-teki silang
mereka datang menyerangku dan aku gagal jadi benteng berganda

adakah rumah baru bagi seorang yang hilang dan tak ingin pulang?
mengapa penyihir lupa berbagi mantera akan bahagia yang berulang?

II

daun jatuh di jendela lalu tiba memanggil siapa saja
angin bukan yang pertama menyapa tapi ia menjawab
dan aku menjelma apa yang tak lagi perlu di puja

reranting pohon ketapang menyimpan suatu kitab
akar-akar yang dulu menulis masih membaca alam
tapi mengapa aku tak lari dari segala yang tetap akrab?

seorang gadis kecil bermain karet gelang semalam
teman-temannya pulang sebelum senja menyala
bila mungkin aku ingin jadi tangannya di masa silam

ada yang mampu bertahan berdiri di ujung cakrawala
mencari bayang pepohonan yang sendirian
kita pernah percaya jika gelap pernah semanis gula

biarkan aku jadi Orfeus, setia menghadiahkanmu nyanyian
kau dan aku apakah ingin berdiri bersama di sisi pelabuhan

III

ada kaktus kecil di meja tulis milikmu
kertas kau tusuk dengan runcing ujung pensil
dan tetap saja kau tak mendengar ketuk diri semu

buku merah, putih, dan hitam barangkali berhasil
di tubuh mereka kau tumpahkan bening-kehilangan
dengan sendiri berkelana, sesekali belajar sedikit usil

di langit-langit kamar seekor laba-laba betina kesepian
memandangi segala hal yang mendekat di jaring-jaring
dan kau berdoa mencari cara agar jiwa bahagia di ayunan

kemarau berani mengubur ruh-ruh musim di tanah kering
pada sungai, sumur, telaga, danau, mereka hilang makna
masa lalu terlampau jauh untuk masa depan paling-hening

ada yang rindu pada jejak sisifus kala ia masih berkelana
sebelum jarak menuju bahagia adalah pintu lain menjadi sirna

IV

dua puluh lima tahun kematian bertahan di sisi seorang pelupa
kicau burung gereja membangunkan semesta yang belum tuhan
mereka pun percaya jika aku tak cukup berani jadi pertapa

tujuh surga membiarkanmu betah diam berjalan
orang-orang suci lupa isyarat sederhana dari lapis hidup
dan kita menjumpai lebah dan bunga-bunga di taman

masih ada yang dewa pertanyakan meski hari telah cukup
kulihat kau kembali bicara pada kertas-kertas putih
cahaya lilin tertusuk tombak angin, ia tak ingin redup

sebelum tertidur, bintang jatuh sebagai nada yang pulih
dari kehampaan malam, sesuatu membelah bulan sekali lagi
siapa yang kelak menanggung seluruh lara langit yang bersedih?

ada bayang yang ditikam ketakutan lalu berniat lebih tinggi
di pintu rasa sakit dan mati, tak seorang pun dari diriku ingin pergi

V

pada ramalan kuno, topeng-topeng mesti ditanggalkan
langit harus diruntuhkan dan tanah digali sedalam jiwa
laut bersama angin menghampiri: menawarkan pelukan

bayangku tak ingin setinggi menara masjid yang tertawa
kotaku:  jalan lengang yang perhatian pada bunyi retak dahan
tapi dosaku adalah seribu keributan terkutuk ramai bernyawa

di restoran, aku ingin kau memesan dosa yang tetap tertahan
pelayan bertanya, kita senyum memandangi nyala sumbu kecil
lagu dewa mengalun, anak kita tengah berbincang dengan tuhan

di kamar, sepasang selimut masih saja menggigil
dinding retak, jam berdentang memanggil nama “wawan”
seorang penyair mencukupkan diri menjadi sebatang pensil

maha benarlah waktu dan suara-suara yang tetap berkawan
seekor gagak yang hilang arah mengelabui langit menanti lawan

Makassar, 2017


 


Wawan Kurn, alumni Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Menerbitkan buku puisi pertamanya yang berjudul “Persinggahan Perangai Sepi (2013)”. Serta diundang sebagai penulis Indonesia Timur di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2015. Buku puisi kedua, “Sajak Penghuni Surga (2017) dan kumpulan esai “Sepi Manusia Topeng (2017)” Penulis dapat dihubungi via email, wawan.kurniawan1992@gmail.com dan dapat disapa melalui twitter @wkhatulistiwa. HP: 085656123020 atau dapat dikunjungi di blog http://www.wawankurn.com

 

 

Iklan