Rainer Maria Rilke: Kucing Hitam

Rainer Maria Rilke
Kucing Hitam

Hantu, yang tak tampak itu, masih punya pintu
bagi pandanganmu, mengetukkan gema; tapi di sini
dalam dera hitam dan tebal ini, tatap tajammu
terserap, hilang, dan benar-benar hilang:

seperti orang gila mengoceh, ketika tak ada
yang bisa tenangkan dia, menanggung beban kelam
ia melolong, menumbuk dinding remuk, lalu
lepaslah marah itu, menjinaklah dia.

Dia sembunyikan semua yang pernah menimpa
ke dalam dirinya, sehingga, seperti seorang saksi,
dia bisa lihat mereka, mengancam, merengut,
dan mencibir, dan tidur dengan mereka. Tapi juga

seperti terjaga, dia palingkan wajahnya ke arahmu;
kau terkejut juga, melihat wajahmu sendiri,
yang mungil, dalam kilau jingga warna bola matanya
tertahan-tertunda, seperti lalat yang purba.

 

Diterjemahkan oleh Kavi Matasukma


 

rilke+piano_crop+colorLahir di Praha, Rainer Maria Rilke merupakan anak tunggal dari pasangan orang tua yang bisa dibilang kurang harmonis. Rilke menjalani masa kecil yang kurang menyenangkan. Orang tuanya memasukkannya ke sekolah militer dengan harapan ia kelak akan menjadi seorang perwira.

Namun Rilke tak tahan dan tak menyelesaikan pendidikan militernya. Dengan bantuan sang paman, yang mengetahui bakat besarnya, Rilke meninggalkan akademi militer dan memasuki sebuah sekolah persiapan Jerman.

Pada tahun 1895, Rilke terdaftar di Charles University di Praha, Di sanalah ia membulatkan tekadnya untuk mengejar karir di bidang sastra. Setahun sebelumnya, Rilke telah menerbitkan jilid puisi pertamanya, Leben und Lieder.

Rilke kemudian memutuskan untuk meninggalkan universitas dan pergi ke Munich, Jerman, dan kemudian melakukan perjalanan pertamanya ke Italia.

Pada tahun 1897, Rilke pergi ke Rusia, perjalanan yang kemudian terbukti menjadi tonggak dalam kehidupannya dan menandai awal dari karya-karya besarnya. Karya besar pertamanya, Das Stunden Buch (The Book of Hours), terbit pada tahun 1905, kemudian diikuti Neue Gedichte (Puisi Baru) dan Die Aufzeichnungen des Malte Laurids Brigge (The Notebook dari Malte Laurids Brigge) pada tahun 1907.

Sepanjang hidupnya, Rilke terus melakukan perjalanan, antara lain ke Italia, Prancis, Spanyol, Mesir serta beberapa negara lainnya. Namun Paris menjadi pusat geografis hidupnya, di mana ia pertama kali mulai mengembangkan gaya baru puisi liris, dipengaruhi oleh seni visual.

Saat Perang Dunia ke I berkecamuk, Rilke terpaksa meninggalkan Paris dan tinggal di Munich. Pada tahun 1919, ia pergi ke Swiss di mana ia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya. Di sinilah ia menulis dua karya terakhirnya, the Duino Elegies dan the Sonnets to Orpheus (1923). Rilke meninggal karena penyakit Leukemia pada 29 Desember 1926. – Sam Haidy

 

Iklan