Ramon Damora: Seekor Puisi Kampung

Ramon Damora
Seekor Puisi Kampung

: wiji thukul

hari ini di kota-kota
puisimu adalah
seekor kucing kampung
seketika nyenyak tidur
tergeletak bawah rak yassin
sipon yang uzur
lalu lari dan berlari lagi
sekonyong-konyong
sepanjang lorong nadi

bila pun kau berhenti
hanya demi
mengencingi jantung
tak berpenghuni

hari ini di kota-kota
puisimu paling ngiau
tetapi bukankah kau
dan kucing kampung
tak terjangkau langsung
berapa buku genap
mimbar layar bioskop gelap
kita cuma bersitatap
pelawa mahasiswa halus
haul kesekian ratus
kau tak terelus
tak terpermanai
seperti aroma bangkai
tak sampai-sampai
ke tengah balai
doa-doa pecah
setelah bunyi sunyi
kepala rengkah
dilindas tank sirah

padahal suara itu
adalah kata-kata dan kau
: sepasang tulang-belulang
saling mengunyah bayang

negara malu-malu
menyediakan dua peti mati
untukmu: yang hitam dan
yang diam-diam…

sesungguhnya
memang tak pernah ada
in memoriam

hari ini di kota-kota
puisimu meninggalkan
ajal kucing kampung
yang masih menumpuk
di antara senarai
kesedihan yang terkutuk

kadang kami tertawa
bedengkang-dengkang
mengejek semua orang
yang tak percaya
kau punya banyak nyawa

“hanya satu nyawa?
: sawan!”

2017

Iklan