Ranjang Ibu dalam Tas Seminar

oleh Astrajingga Asmasubrata

“Membaca prosa menghabiskan waktu, membaca puisi menghentikan waktu.”

Joko Pinurbo. Setiap kali membaca atau mendengar nama itu, benak saya seketika diserbu larik-larik sajak yang secara tak sengaja dihafal juga tak sengaja dirahmati. Misalnya:

Dan bila sesekali ranjang berderak atau berderit,
serasa terdengar gemeretak tulang
ibunya yang sedang terbaring sakit.

Sajak Ranjang Ibu membuat saya menangis di bus dalam perjalanan ke Surabaya, kabur dari rumah lantaran ego usia pubertas yang tak bisa saya kendalikan. Sepertinya hari itu memang hari naas saya. Ada sebuah buku dalam tas seminar yang saya muliakan (baca: alih kepemilikan secara paksa) dari lemari paman saya. Larik sajak yang saya kutip di atas, merusak rencana indah kabur dari rumah. Perjalanan baru sampai Jogja, dan saya pun turun mencari bus ke arah sebaliknya, pulang kembali ke pelukan ibu di Cirebon. Dan larik sajak itu pula yang menjebloskan saya ke puisi, sebagai perjalanan entah kemana dan entah kapan sampainya.

Semenjak itu saya terus memburu buku-buku puisi Joko Pinurbo yang hampir semuanya cetak ulang selalu. Jika ada pertanyaan: Apa yang menarik dari sajak-sajak Joko Pinurbo? Saya akan menjawab dengan lantang: Khusyuk! Sajak-sajaknya penuh tabrakan-tubrukan realitas dan absurditas, tragedi dan komedi, dan lain sebagainya. Dua hal yang berlawanan semisal tadi itu berjalin-kelindan hampir di setiap sajak-sajaknya, yang kadang tidak saya temukan di dalam sajak penyair lain.

Setiap acara sastra yang mengundang dirinya saya selalu berusaha datang, sekadar untuk mencium tangannya. Saya beranggapan semoga saja pintu berkah untuk saya memang terbuka dari situ. Abu-abu, putih, dan kotak-kotak abu-putih sepertinya menjadi warna favorit penyair kita ini. Setidaknya itulah yang sering dipakai oleh Joko Pinurbo sepengetahuan saya. Setiap kali di dekatnya, diamnya seorang Jokpin lebih puitis dari arca di tengah sawah dusun Maja, tanah kelahiran saya.

Sebagai seorang pejalan yang sering disasarkan sajak-sajak Joko Pinurbo, saya merasa berbahagia sebab seorang Penyair Guru dari sebuah Suaka Katakatakata pernah berfatwa kepada saya, “Sesat tak sesat bertanyalah!” Maka setiap pertemuan dengan Jokpin saya selalu bertanya dan berusaha membacakan sajaknya yang saya hafal. Tetapi pada saat haul Gusdur di Ciganjur 2016 lalu, dengan sangat nekat menunujukkan sajak di buku saya kepadanya. Walau penuturannya sudah membaca di internet, dengan saya menunjukkan kepadanya itu merupakan bagian dari proses kepenyairan saya.

Sebagai tukang cat yang cuma lulusan SMP, saya sering pulang dari rantau tak bawa uang. Dan untuk menyenangkan hati ibu saya, saya selalu membacakan sajak terbaru saya untuknya, yang sebelum membacakannya improvisasi dengan memperkosa bait terakhir sajak Joko Pinurbo berjudul Kereta Api Menuju Jakarta:

jadi, petik saja bunga
dan kembalikan pada bunda
buat kekasih bernama Jakarta
berikan satu kerdipan saja

diperkosa menjadi:

jadi, petik saja sajak
dan serahkan pada bunda
buat kekasih bernama kemiskinan
berikan gejolak batin saja

Fatwa “membaca prosa menghabiskan waktu, membaca puisi menghentikan waktu” dari penyair kita yang pernah membelah dirinya menjadi empat dalam satu sajaknya berjudul 1105 ini, sungguh memang benar adanya. Sebab usai saya membacakan sajak terbaru untuk ibu saya itu, ibu kontan memeluk saya dan melupakan kepulangan saya sebagai petualang bernasib malang.

Rasanya tak ada ungkapan rasa terima kasih yang lebih besar kepada Jokpin selain menuliskan sajak untuknya. Semoga saja dengan begitu tidak terlalu terpaksa memaafkan saya yang telah memperkosa bait terakhir sajaknya sebagai tameng agar saya tidak terlalu menyedihkan di hadapan ibu saya. Dan inilah sajaknya:

Kepada Kekasih Celana

apakah kau masih di sana menjaga celana
warisan ayah dan makhluk lucu di baliknya?

barangkali ayahmu tak keliru menitipkan
benda jahanam itu, sebab makin ke sini
makin mahal harganya dan produksi ulang
selalu

entahlah, mungkin harus pula kuciptakan benda
semacam itu untuk jaga-jaga masa depan, sebab
ayahku tak mewariskan apa-apa selain Miryam
ibuku

aduhbiyang, ibu memang penjahit tapi tak pernah
mau menjahit kata-kataku untuk kukenakan depan
calon mertuaku yang galaknya tak bisa diampuni itu
huhuhu

sungguh, kalau boleh aku lancang kepadamu
ingin kulamar celanamu dengan sejumlah kata
yang merupa batuk terakhir menjelang maut
ayahku

apa kabar makhluk lucu di balik benda jahanammu?
hei, dehemnya mirip benar dengan veteran tetanggaku

(dusun maja, 2017)

Terima kasih, Jokpin! []

Iklan