Sajak Alfian Dippahatang

Alfian Dippahatang
Berterima Kasih Kepada Coto

Di Forum Pencegahan Teroris,
Jokpin mengaduk-aduk otak mesin
para bongsor. Ragu pada anak-anak muda
di kotanya hanya jago ugal-ugalan di jalan.
Ragu ada generasi berbakat jago bikin puisi.
Bahkan ragu ada anak muda mahir
mencincang daging sapi buat biaya semester.

Sungguh mulai mulia puisi yang engkau hidangkan
di otak para bongsor. Puisi rumit, tetapi kata-katanya
selalu terdengar di kantor polisi, warung makan dan gang.
Kata-kata mesti diolah dari dapur paling ajaib
dan ajib—agar membuat pikiran sementara raib,
seolah ada rayap gaib jengkel merayap memakannya.

Jauh dari permukaan air paling tenang,
engkau ingin saja berterima kasih kepada coto
telah membuat dua puluh tahun hidupmu
mampu mengganggu pakar penyusun MoU
di negeri ini yang betah mengekspor daging,
betah menggusur kaki pedagang.

 


Alfian Dippahatang lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan 3 Desember 1994. Tidak selesai di Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar dan melanjutkannya di Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. Buku puisinya, Dapur Ajaib, 2017 (Basabasi).

Iklan