Sajak Bei Dao – Jawaban

Bei Dao
Jawaban

Kehinaan adalah katakunci paling dasar,
Keagungan pada nisan ningrat.
Lihatlah bagaimana langit lapis emas tersaput
oleh putaran bayang-bayang kematian yang melayang.
Zaman Es telah berlalu,
tapi mengapa di mana-mana beku?
Tanjung Harapan telah ditemu,
mengapa masih ada seribu perahu mengarung Laut Mati?
Aku datang ke dunia ini
berbekal kertas, tali, bayangan,
untuk memproklamirkan sebelum tiba penghakiman
Firman yang telah dijatuhkan:
Kukatakan padamu, dunia
Aku—jelas—tidak—percaya!
Jika ada seribu pendakwa terbaring di bawah kakimu,
Tantang aku sebagai yang ke seribu satu.
Aku tak percaya langit itu biru;
Aku tak percaya guntur menggemuruh;
Aku tak percaya mimpi-mimpi itu palsu;
Aku tak percaya maut tak mendapat sahut.
Jika laut pasti gugurkan karang
Biarlah seluruh ombak mendebur dalam hatiku;
Jika seluruh tanah jadi benteng
Biarkan kemanusiaan memilih puncak untuk bangkit lagi.
Sebuah tautan baru dan kerlipan bintang-bintang
Menghiasi langit yang tak lagi berbatas;
Jadi gambar yang berarti dari lima ribu tahun lalu.
Jadi mata-mata anak cucu kita nanti yang berharap penuh.
bei-dao[1] Bei Dao adalah nama samaran dari Zhou Zhenkai, dianggap sebagai salah satu penulis kontemporer dari Tiongkok. Karya-karyanya sudah dialihbahasakan ke dalam lebih dari 30 bahasa di seluruh dunia. Ia adalah anggota terkemuka dari sebuah gerakan avant garde di tahun 70-80-an di Tiongkok yang biasanya secara tidak baku disebut sebagai Ménglóng Shi Rén atau “Penyair Kabut. Disebut demikian karena bahasa yang digunakan dianggap abstrak serta anggapan bahwa makna di dalam puisi-puisinya tidak jelas.
Iklan