Sajak Benjamin Zephaniah

Benjamin Zephaniah
Kita Para Pengungsi

Aku datang dari tempat penuh musik
Di mana mereka menembakiku karena laguku
Dan saudaraku telah disiksa
oleh saudaraku sendiri di tanahku.

Aku datang dari tempat yang indah
Di mana mereka benci warna kulitku
Mereka tak suka caraku berdoa
Dan mereka larang kami berpuisi.

Aku datang dari tempat yang indah
Di mana anak dara tak berangkat sekolah
Di sana mereka pilihkan bagi kami tuhan
Dan bahkan pemuda-pemuda harus berjanggut panjang.

Aku datang dari rimba raya tua
Yang kupikir sekarang telah jadi lapang
Dan orang-orang yang kukenal dulu
Tak ada lagi di sana.

Kita semua bisa jadi pengungsi
Tak seorang pun merasa aman,
Yang ada hanya seorang pemimpin gila,
Dan tak ada hujan yang membawa makanan,
Kita semua bisa jadi pengungsi
Kita semua bisa disuruh pergi,
Kita semua bisa dibenci oleh seseorang
karena menjadi liyan.

Aku datang dari tempat yang indah
Di mana lembahnya dipenuhi air setiap tahun
Dan setiap tahun pula badai memperingatkan
Bahwa kita harus terus berjalan.

Aku datang dari tempat yang kuna
Di mana keluargaku pernah dilahirkan
Dan aku akan pergi ke sana
Namun aku benar-benar ingin tetap hidup.

Aku datang dari tempat terik dan berpasir
Di mana pelancong menggelapkan kulitnya
Dan pedagang senjata sibuk berniaga
Tapi aku tak pernah tahu harganya.

Aku diberitahu sekarang aku tak bernegara
Aku dipaksa mengaku aku telah berdusta
Aku diberitahu buku-buku sejarah mutakhir
tak lagi mengingat namaku.

Kita semua bisa jadi pengungsi
Kadang hanya perlu sehari
Kadang hanya perlu satu salaman
Atau sebuah tandatangan.
Kita semua datang mengungsi
Tak ada yang hanya terlihat,
Semua di sini telah berjuang,
Jadi untuk apa hidup jika takut
pada cuaca atau masalah yang ada?
Kita semua datang dari sini dari mana-mana.

 

220px-Benjamin_Zephaniah_University_of_Hull[1]


Benjamin Obadiah Iqbal Zephaniah lahir pada 15 April 1958 adalah penulis berkebangsaan Inggris, penyair, dan penganut Rastafari. Ia termasuk 50 penulis top Britania Raya pasca perang menurut The Times di tahun 2008. Buku puisi pertamanya, Pen Rythm (1980) dicetak ulang sampai 3 kali. Selain menulis puisi, ia juga menulis novel, buku cerita anak, naskah drama, dan lagu.

Iklan