Sajak Cinta, Syair yang akan Mewaktu

ilustrasipengantar

Oleh Dedy Tri Riyadi
Masinis LOKOMOTEKS

Syair ini juga akan mewaktu
yang jelas, usianya akan lebih panjang
dari usiaku dan usiamu

(Sajak Cinta yang Ditulis pada Usia 57, Rendra)

 

INILAH cara kami menggerakkan sastra Indonesia, tentu dengan cara kami.  Sajak akan “bergerak” jika khayalak penikmat menikmatinya dengan jalan apresiasi paling sederhana dan paling utama, yaitu dengan membacanya.

Semula niat kami adalah menyusun daftar ini lewat apa yang kami sebut Pemilihan Umum Sajak Cinta Indonesia. Kami berharap pembaca sebanyak-banyaknya mengusulkan masing-masing lima sajak cinta terbaik versi mereka masing-masing. Dari usulan-usulan itu kami akan menyusun 100 sajak untuk dipilih 25 sajak terbaik, juga oleh pembaca.

Nyatanya, pemilu sajak cinta itu gagal.  Partisipasi pengusul jauh dari harapan. Juga sajak-sajak yang diusulkan.  Orang Indonesia tak banyak membaca sajak Indonesia? Jika benar indikasi itu, maka justru itu yang ingin kami lakukan, bagaimana caranya agar orang Indonesia membaca sebanyak-banyaknya sajak Indonesia?

Kami memutar jalan. Kalau begitu kami sendiri yang akan memilih sajak tersebut. Mulau-mula 25, tapi eh ternyata banyak sekali sajak cinta bagus yang menurut kami mewakili keberagaman cara ucap yang sudah ditulis oleh para penyair Indonesia. Kami menambah panjang daftar menjadi 50. Ternyata kami menemukan lebih banyak sajak lagi.  Maka inilah 50 Saja Cinta Terbaik versi LOKOMOTEKS bagian 1. Berarti akan ada bagian 2? Ya, mungkin juga bagian 3.

Inilah cara kami merayakan puisi. Menggerakkan puisi. Inilah cara kami ikut menyemarakkan Hari Puisi Indonesia 2017 yang puncaknya nanti akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, setelah tahun lalu dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Pemilihan 50 sajak cinta ini adalah upaya dari kami untuk membuktikan bahwa sajak cinta itu akan meruang dan mewaktu seperti dinubuatkan oleh Rendra. Juga menyelaraskan pada pemikiran Acep Zamzam Noor bahwa cinta adalah energi yang begitu besar sehingga bisa menjadikan seseorang sebagai penyair, sebab cinta menggerakkan kita untuk kembali pada ibu yang mengajari kita pada kata dan bahasa supaya kita makin mahir dan luwes memainkannya.

Setelah berulang-ulang membaca sajak yang kami pilih, awak gerbong LOKOMOTEKS Sofyan RH Zaid, memandang bahwa 50 sajak cinta ini bisa menjadi teladan bagi kita semua bagaimana menulis puisi cinta yang memabukkan namun tetap penuh kesadaran.

Arco Transept, awak LOKOMOTEKS yang lain, bilang bahwa 50 sajak cinta ini bukan saja ditulis dengan perasaan penuh cinta, tetapi juga khas dengan gaya ucap masing-masing penyairnya yang menggambarkan keintiman seorang penyair dengan bahasa dan cinta.

“Sajak-sajak cinta ini juga merupakan salah satu cara membaca peta sajak cinta di Indonesia melalui pemaknaan hingga kemampuan penyairnya melampaui batas stilistika,” ujar penyair asal Palembang ini.

Lain lagi dengan Astrajingga Asmasubrata, ia berpendapat bahwa kalau saja semua orang menghayati sajak-sajak cinta terbaik ini, seharusnya tak ada lagi jomlo di tanah air ini. Ini menunjukkan bahwa sajak-sajak yang terpilih ini mempunyai pemikiran yang dalam mengenai bagaimana cinta diekspresikan secara tepat bahasa hingga terasa sampai ke relung hati jika dibaca.

Maka demikianlah 50 sajak cinta ini dipilih, dari Amir Hamzah sampai dengan Joko Pinurbo. Kami batasi hanya pada para penyair yang muncul pada tahun 2000-an lebih dahulu. Jangan bersedih, ini baru bagian pertama. Kami akan terus bergerak untuk mencari sajak-sajak cinta yang asyik, yang masyuk, yang menarik, yang memabukkan, dari periode para penyair-penyair yang kemudian, karena pada awalnya memang kami meniatkan diri untuk mencari 100 sajak cinta Indonesia.

Kami tidak melakukan pemeringkatan untuk sajak-sajak cinta ini, kami hanya mengurutkannya berdasarkan tanggal tahun sajak yang terpilih saja. Namun dasar kami memilih adalah bahwa sajak itu adalah sajak cinta, ada nilai lebih yang dikandung oleh sajak tersebut, dan argumentasi dari para redaksi LOKOMOTEKS terhadap sajak itu hingga akhirnya terpilih dan harus dihadirkan di antara ratusan sajak-sajak cinta lainnya.

Sofyan RH Zaid misalnya, menemukan sebuah sajak nan penuh gairah yang ketika disinggung dan dibacakan di depan penyairnya membuat wajah penyairnya merah padam.

Muhammad Sadli, punggawa LOKOMOTEKS lainnya menyodorkan sajak-sajak Wiji Thukul yang selama ini kita kenal sebagai penyair yang banyak mengusung sajak-sajak protes. Dan pilihannya memang dahsyat. Sajak berjudul “Jangan Lupa Kekasihku” adalah pembumian dari kata “cinta” dengan realitas bahwa di sekitar kita ada banyak hal dan pihak yang seharusnya kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Didekati, dicintai, dikasihi. Karena itulah hakikat cinta sebenarnya. Mendekatkan kita pada sesama manusia.

Sedangkan sajak Wiji Thukul yang lain “Baju Loak Sobek Pundaknya” adalah romantisme yang tetap terjaga dari Thukul pada Sipon, istrinya, meski pada kenyataannya Thukul sedang dalam pelarian dan persembunyian. Ya. Begitulah seharusnya jika kita mencintai. Menjaga perasaan romantis itu senantiasa. Menjaga biar api cinta tetap membara. Hal itu sama seperti sajak Rendra yang disinggung di awal tulisan, “Sajak Cinta yang Ditulis pada Usia 57”.

Kami sendiri mempertahankan agar sajak “Menjadi Penyair Lagi” yang merupakan modus jatuh cinta yang paling puitis, tetap berada dalam 50 Sajak Cinta ini. Toh, memang tujuan dari mengumpulkan sajak-sajak cinta ini adalah agar para pembaca nanti merasakan kembali jatuh cinta, lalu menulis sajak cinta, dan itu akan membuat bangkitnya para penyair, menjadi penyair lagi.

Jika setelah membaca 50 Sajak Cinta ini, lalu Anda semua jadi ingin menulis lagi sajak cinta setelah 25, atau 30 tahun menikah, jangan salahkan kami.  Memang itu yang ingin kami katakan: membacalah, dan menulislah. Sajak cinta – juga sajak apapun sesungguhnya – akan menjadi syair yang akan mewaktu, berusia lebih panjang dari usia percintaan itu sendiri, seperti bait sajak Rendra yang kami kutip di awal pengantar ini.

***

 

Iklan