Sajak Derek Walcott – Hari Itu, dengan Segala Nyeri yang Dimilikinya Nanti, adalah Milikmu

Derek Walcott
[Hari Itu, dengan Segala Nyeri yang Dimilikinya Nanti, adalah Milikmu]

Hari itu, dengan segala nyeri yang dimilikinya nanti, adalah milikmu.
Liuk mengombak yang tak pernah jenak pada lautan pagi,
Wangi damar yang tak lagi samar menguar dan berkibar dari pepucuk pinus,
Gerak cecabang yang mulai semarak memacak semilir angin,
Padang-padang yang mulai berwarna kelat, sedang rumputannya dipucatkan angin,
Dekut burung-burung merpati berwarna kelabu di jalan itu,
Gema doa pada sebuah rumah —
yang kamar-kamarnya dari rasa sakit, yang berandanya dari penyesalan
saat kegembiraan melayang melalui pintu-pintunya yang terbuka
seperti kolibri mengembara ke taman dan kolam
sedang langit telah runtuh. Semua itu milikmu,
dan nyeri telah membuatnya lebih cerah seperti kekosongan yang ada
setelah kematian, seperti cahaya menyentuh untuk menyembuhkan rumputan itu.
Dan seekor kadal berwarna cokelat cabang kayu merayap pada ranting pohon
seperti jemari menari pada dawai-dawai gitar.
Aku mendengar ledakan dedaunan agave
Rentet letupan kuncup-kuncup bunga kertas,
Aku melihat akasia menyalakan unggun, bunga-bunga begonia acungkan belatinya,
pokok asam jawa dengan duri-durinya dan sebaran gemawan
dari buah labu
dan pepucuk pinus mengibarkan bendera putih tanda menyerah
dan pepohonan flamboyan mengepung benteng.
Aku melihat banteng-banteng hitam, menundukkan tanduk, berderap, menanduk kabut
yang bangkit dari bukit-bukit kecil Santa Cruz yang tak tergoyahkan
dan zaitun-zaitun dari Esperanza
keindahan sekejap Andalusia, dan jawaban
dan kerincing kesunyian dari bulan
dan gitar-gitar dari gerimis
dan cahaya matahari serupa kawat-kawat saat hujan
selendang-selendang dan bintang-bintang usang
dan air mancur – air mancur yang telah hancur.

sumber: poetryfoundation.org

 

Iklan