Sajak Li-Young Lee

Li-Young Lee
Immigrant Blues

Orang-orang telah mencoba membunuhku sejak aku lahir,
kata seorang pria pada anaknya, hendak menjelaskan
kebijaksaan dari belajar bahasa asing.

Itu cerita yang sama dari abad lalu
tentang ayahku dan aku.

Cerita yang sama dari kemarin pagi
tentang aku dan anak lelakiku.
Cerita yang disebut “Strategi-strategi Menyintas
dan Melankoli Asimilasi Suku Bangsa.”

Disebut “Paradigma Psikologis dari Orang-Orang Terlantar,’
disebut “Anak yang Lebih Suka Bermain daripada Belajar.”
Berlatihlah sampai kaurasa
bahasa itu berada di dalammu, kata pria itu.

Namun tahu apa dia soal di dalam dan di luar,
ayahku yang tak disisakan apa-apa
meski dalam bahasa yang ia gunakan?

Dan aku, dibimbangkan tubuh dan jiwa,
pernah bertanya sekali dalam telefon,
Aku di dalammu?

Kau selalu di dalam aku, seorang wanita menjawab,
pada damai dengan keterbatasan tubuh,
pada damai dengan ketakpedulian jiwa
pada ruang dan waktu.

Apakah aku di dalammu?  Aku bertanya
saat berbaring di antara kaki-kakinya, bingung
antara tubuh dan hati.

Kalau kau tak percaya kau ada di dalamku, begitulah kau,
ia menjawab, pada damai dengan keserakahan tubuh,
pada damai dengan keliaran hati.
Inilah kisah kuna dari malam kemarin
yang disebut “Pola-pola Bercinta Orang-Orang Diaspora,”

disebut “Kehilangan Tempat Tinggal
dan Kedegilan dari Yang Dicinta,”
disebut “Aku Ingin Bernyanyi tapi Aku Tak Tahu Satu Lagu pun.”

 

Iklan