Sajak-Sajak Li-Young Lee

Li-Young Lee
Dari Kembang Bunga

Dari kembang bunga kembang datanglah
persik dalam kantong kertas warna coklat
kita beli tadi dengan tawa suka
di batasan jalan di mana kita memutar arah
di dekat rambu bertanda: Persik

Dari cabang yang rimbun, dari tangan-tangan
dari persahabatan yang manis di dalam keranjang,
datang nektar dari tepian jalan, persik berdaging sukulen
yang kita gugut, kulit yang berdebu dan semua datang
dari debu musim panas yang kita kenal, debu yang kita telan itu.

O, memetik cinta ke dalam diri,
membentang kebun ke dalam diri, menyantap
tak hanya selapis kulit, tapi juga bayangan itu,
bukan hanya gula, tapi juga hari, menggenggam
buah itu di tangan kita, memujanya, lalu menggigit
pada titik lingkaran, persik kemenangan.

Ada hari-hari dalam hidup kita
ketika maut itu ada tak di mana-mana
tapi dekat di halaman belakang, dari kegembiraan
ke kegembiraan ke kegembiraan, dari sayap ke sayap
dari kembang bunga ke kembang bunga
ke bunga yang tak mungkin, hingga ke bunga
yang manis dan yang mustahil bunga.


Li-Young Lee
Bantal

Suara-suara di pepohonan, halaman yang hilang
dari lautan.

Segalanya tertidur.

Dan malam adalah sungai yang menjembatani
tebing yang saling bicara dan saling mendengarkan,
benteng, yang tak berpertahanan, dan tak ada serbuan

Tak ada yang ingin berdiam di bawah situ:
sumur buntu oleh lumpur dan daun yang membusuk,
rumah masa kecilku.

Dan malam dimulai ketika jari-jari ibuku
menelusurkan benang
yang tersematkan dan yang tak terikat
hingga menyentuh ke ujung jumbai cerita kami

Malam adalah bayangan tangan ayahku
mengatur jam, alarm kebangkitan

Apakah jam itu terlepas? Lalu terbanglah angka-angka?

Tak ada yang tak menemukan rumah di situ:
Sayap yang patah, sepatu yang hilang, alfabet yang rusak.
Semuanya tertidur, dan malam memulai malam.

Melati pertama yang terpetik,
wangi yang terperangkap padanya terusir
dari pakaian terakhir ke pemakaman.


Li-Young Lee
Sebuah Cerita

Kesedihan adalah ketika kau diminta bercerita
tapi tak ada satu pun cerita bisa kau ceritakan.

Anakmu, bocah-5-tahun itu, menunggu di pangkuanmu.
“Bukan cerita yang sama, Ayah. Aku mau yang baru.”

Di ruang penuh buku di dunia cerita-cerita
kau tak bisa mengingat satu pun cerita,
dan tiba-tiba, kau bayangkan, bocah-5-tahun-mu
itu kecewa dan menggerutu, “Ah, ayah, payah…”

Lalu kau terbawa khayalan ke masa depan, masa ketika
anak lelakimu harus  meninggalkanmu. Jangan pergi dulu, katamu,
Aku ceritakan lagi dongeng buaya, cerita bidadari,
Kamu suka cerita laba-laba itu, kan? Anakmu tertawa,
Ya, aku akan bercita lagi, Nak. Cerita untukmu…

Tapi anakmu sedang berkemas, melipat rapi baju-baju,
dia bertanya mana kunci?  “Kamu ini dewa, ya, Nak?
Kau memekik, “ini aku hanya bisa duduk terdiam di sampingmu,
atau aku yang dewa karena tak boleh merasakan kecewa?

Tapi anakmu bocah-5-tahun itu masih di sini,
“Ayah, adakah cerita baru untukku?”
Itu pertanyaan dari hati bukan dari pikirannya,
pertanyaan dari bumi bukan dari surga,
yang memperasing permintaan anakmu
dan cinta kasihmu, mempersunyi kesunyian.


Li-Young Lee
Di Pagi yang Dini

KETIKA gelagah merunduk
karena basah, air menggurak
di api kecil kompor, sebelum
asinan sayur musim dingin diiris-iris
untuk sarapan, sebelum burung-burung,
ibuku menyisirkan sisir gading
pada rambutnya, tebal
dan hitam seperti tinta kaligrafi.

Dia duduk di ujung ranjang.
Ayahku memandanginya, menyimak
musik dari suara sisir yang
menyusur rambut.

Sisir ibuku,
menguraikan, rambut hitamnya
rapat-padat, menggulungnya
di selingkar dua jari, menyematkannya
menjadi sedompol sanggul di atas tengkuknya.
Setengah abad lamanya dia sudah begitu, melakukan itu.
Ayahku senang, melihat sanggul seperti itu.
Dia bilang seapik itulah semestinya.

Tapi aku tahu
itu jika tidak begitu
rambut ibuku rontok
ketika ia menarik tusuk konde rambutnya.
Ya semudah itu, semudah tirai jendela
ketika melepas ikatan di hari petang.


Li-Young Lee
Makan Bersama

Ikan trout di panci kukusan
dibumbui irisan jahe,
dua tangkai daun bawang, dan minyak wijen.
Kami harus menyantapnya dengan nasi, saat makan siang,
saudaraku, kakakku, ibuku yang akan
kebagian daging termanis di kepala ikan itu,
memegangnya di antara jari-jarinya
dengan cekatan, dan itulah yang ayahku dilakukan
minggu lalu. Lalu ia beranjak pergi
berbaring dan tidur, seperti jalan diliputi salju
meliuk berkelokan melewati pinus yang lebih tua dari dia,
tak ada turis, dan sepi ini bukan untuk sesiapa.


Li-Young Lee penyair Amerika berdarah Cina, kelahiran Jakarta, 1959. Kakek buyut dari garis ibunya adalah Yuan Shikai, presiden pertama Republik Cina. Ayahnya dokter – pernah menjadi dokter pribadi Mao Zedong – yang sempat masuk tahanan politik karena sentimen anti-cina lalu menjadi orang eksil hingga membawa keluarganya menetap di Amerika.

Iklan