Sajak Louis MacNeice – Keberagaman

Louis MacNeice
Keberagaman

Sudah takdir bagi mata tak bisa memandang matahari
Para filsuf sombong bohong siapa bilang dunia itu satu;
Dunia adalah lain dan liyan, dunia adalah kita dan mereka,
Parmenides akan melemahkan hidup dengan kurangnya udara
Tak termasuk kelahiran dan kematian; kristalnya tak akan pecah–
Tak bergerak dan tak bernapas, tak melaju dan tak bersalah,
Tak ada awalan atau akhiran, tak ada cinta bahkan perkelahian,
Semua dari musuhmu adalah teman dan seluruh harimu adalah malam
Seluruh jalan tak menuju ke mana pun bahkan itu pun bukanlah jalan
Dan jiwa terikat pada raga, dunia adalah bola dari kayu saja.
Pemikiran akal-tubuh kini telah dikebiri, menafikan hidup kita
dan tak ada yang bisa kita lakukan, hanya berjuang untuk menyintas,
Kekejiannya pada kebimbangan membekukan laju aliran
Jadi khayal semata, keinginannya meraih puncak
Kesempurnaan berarti menutup setiap lubang
rapat-rapat seperti ia bangkitkan mayat putih yang sempurna
Semesta yang seluruhnya putih, menolak adanya
pemisahan atau penyebaran — Keabadian itu sekarang
Dan Sekarang adalah kebekuan, sesuatu yang ia belum tahu
Perumusan jati diri yang degil dan termangu
dari Inti dan Keberadaan yang tak akan bisa bersatu tanpa
Membuang diri jauh dari mempercaya dan meragu,
Berlaku dan keliru, bertumbuh dan menjauh;
Jika manusia cerminan sederhana dari Tuhan, sesembahan pun rebah.
Tidak, itu rumusan yang salah yang gagal membuatnya jelas
Bahwa hanya perubahan yang akan mengubah, bahwa musim menentukan tahun,
Bahwa sesuatu, mahluk, manusia adalah apa yang ditentukan karena
Adanya sesuatu yang diawali dan bukan apa yang telah terjadi,
Namun itu berkenaan dengannya, berkibar dan terbentang,
Jangan sampai dibatalkan, jangan sampai digabung di dunia,
Itu entitas penolakan dari semua yang bukan tentangnya,
Itu setiap gerak pencobaan melalui kekacauan dan Jurang,
sebuah kemutlakan dan sesuatu yang sangat menantang Dia
Kemutlakan, deret kekosongan saat waktu telah berlaku,
Di mana tak ada yang lalu atau datang dan Itu bersama Seharusnya
Dan semua kemungkinan dijumlah seperti pemecahan dari kosong.
Dunia tak seperti itu, dunia penuh dengan kebutaan
Teluk menyeberang rumah susun, perasaan melawan pikiran,
Mengembang atau mengempis sesuai kocokan dadu,
Berbusa, tak berkesudahan, tak akan pernah sama selalu.
Kau bicara soal Nilai Luhur, Wujud Universal —
Pandangan-pandangan, aku beritahu, semua itu terjadi setelah kekacauan
Dan harus dibuat dan dipandang tapi tak akan dapat dipertahankan,
Berlepasan dari tangan, selalu jadi raihan lagi,
Inti dari usaha kita menuju kesempurnaan
Tidak akan layak dicapai jika dunia ditetapkan
Adil, kalau salah dan memilah tak ada, kalau dunia
Yang bodoh harus mencari suaranya agar baik dan Tuhan
Berinkarnasi sekali untuk selamanya. Tidak, kesempurnaan berarti
Sesuatu jelas akan runtuh jika tak ada yang campur tangan
pada peristiwa itu dan masalahnya akan dipenuhkan
Tangan waktu yang tak pernah berhenti melaju.
Yang sungguh diperam dan hidup, kau dan aku
hanya bisa hidup dengan pertikaian agar kehidupan mati,
Dan, jika kita pakai kata Abadi, seperti mendaku
Apa yang burung bisa temukan dalam bingkai
penerbangan sesaat (nilainya akan tetap tapi
sebagai malam yang hilang disapu kabut itu).
Manusia jadi manusia karena mungkin ia buas
dan itu bukan dirinya sendiri bahkan merasa ditinggikan,
Manusia adalah manusia sepanjang ia bukan dewa tapi
merasa rindukan melihat dan menyentuh pantheon tapi
lupa cara mengakhiri hidup dengan baik dan manusia adalah sejatinya manusia
Karena ia akan melampaui dan mencemoohkan sesamanya:
Sebagai mahluk yang bisa kaya dengan melihat hal-hal yang salah
lalu memperbaikinya, seperti yang kubanggakan karena di sinilah aku.
Manusia sungguh akan marah karena tak puas, ia dilempar
Dengan harapan yang indah atau mimpi-mimpi buruk melawan dunia,
Menegakkan perancah yang rapuh dalam arus tak berujung,
Di saat kebingungan harus bersikukuh mengetuk seluruh isi kepala
Dan ia harus menerus, menyerbu dalam jurang maut
Walau nyeri tulang dan otot ini, menyadari ada yang telah luput,
Menyadari kesalahan diri, dan banyaknya ketakmampuan, dan ego
Yang sakit, dan kenangan yang patah, dan waktu yang bergegas itu,
Menyadari pemborosan hari-hari bekerja, menyadari dendam dan kebencian,
Perselisihan dengan tetangganya, sadar pada peminta-minta di gerbang kota,
Juga sadar bahwa cinta dan kegembiraan akan semuanya dan kuasa
untuk melintasi batas dari waktu yang tertinggal,
Menyadari akan cahaya matahari, sadar sentuh tak berselubung dari maut,
Tak sepenuhnya namun sadar bahwa — itu semua lebih dari cukup.
louis-macneice[1]Louis MacNeice adalah anggota muda dari kelompok Auden-Spender-Day Lewis di tahun 1930-an. Buku puisinya terbit tahun 1935 berjudul “Poems.” Ia menjadi teman sekaligus rekan kerja WH Auden dalam pengerjaan buku Letter of Iceland di tahun 1937. Pada tahun 1938, buku keduanya bertajuk “The Earth Compels” terbit, yang isinya adalah refleksi kehidupan pribadinya yang banyak masalah dan kecintaannya pada prosa dan drama. Selain sebagai penyair, MacNeice juga dikenal sebagai penulis naskah drama dan scriptwriter untuk serial-serial BBC.
Iklan