M. Aan Mansyur – Sejam Sebelum Matahari Tak Jadi Tenggelam

sunset_acrylic_painting_by_belka10

M. Aan Mansyur
Sejam Sebelum Matahari Tak Jadi Tenggelam

(1)

perih paling sulit untuk kucintai adalah perihal yang paling kau cintai.
aku ingin kau membuat tantangan bagiku. mencintaimu, umpama.
ciri-ciri perempuan yang kucari-cari adalah yang gampang berduka.
kau tidak tahu berhenti tertawa. hidup bukan lelucon—atau jantung lelucon
adalah kantung air mata.

langit sore sedang tidak indah.
dia senang berawan akhir-akhir ini. tetapi ketika aku melihat keluar,
wajahku terasa jauh lebih muda. di kaca jendela, samar kulihat diriku
sebagai anak langit tua itu. dulu, aku merasa anak matahari,
tetapi langit lebih mudah menerima kekuranganku.

*

pukul 5:17 sore.
aku tidak yakin pada segala sesuatu—kecuali yang memar dalam puisi ini.
dan rasa antara manis dan pahit kopi yang tinggal sepah.

aku menginginkan gelas ketiga. puisi baru separuh.

puisi ini kutulis untuk teman-temanku. aku ingin merasuk dan merasakan dada mereka yang belum kutemui. kau juga belum pernah bertemu mereka. aku tidak tahu sedalam apa kebohongan di mata mereka—barangkali tidak lebih dalam dari milikmu.

di internet, bahkan orang yang sangat jauh dapat menyakiti kita.
aku suka mereka menyakitiku dari kejauhan.
aku menjadi lebih mencintai diriku dan hal-hal yang sering kuanggap rapuh.

besok hari rabu.
jika ini hari terakhirku, rabu akan menjadi hari favoritku.

*

aku sering seperti ini. gelisah dan tidak tahu harus melakukan apa pun. hanya duduk dan mendadak puisi jatuh cinta kepada kesunyian di telingaku yang sudah lama ingin bicara kepada kau atau siapa saja.

puisi adalah pasangan bercinta yang kasar—kadang seperti perkelahian yang menggairahkan. kata-kata yang kau baca cuma percik-percik darah.

*

setelah gelas ketiga, kupikir sebaiknya aku melakukan satu hal gila. keluar dari kafe ini dan menabrakkan diri ke kepala truk. aku ingin melihat bagaimana puisi memungut tubuhku—dan aku tertawa membacanya di koran besok pagi.

aku membayangkan kau tertawa pada hari rabu. kau menertawai seseorang yang bersedih karena kau tidak berhasil membuat tantangan untuknya. aku ingin datang kepadamu sebagai lelucon yang lebih besar daripada hidupmu.

(2)

pukul 5:30.
rasanya seperti pagi—dan aku baru saja bangun dari mimpi buruk.
jalanan di luar kafe adalah mimpi buruk yang lain.
kadang aku berdoa kau tidak sedang berada di sana,
terjebak bunyi klakson dan debu.

lebih baik kau berbaring di tempat tidur
menertawai dirimu sendiri atau siapa saja yang gagal mencintaimu.
atau menyerah kepada mimpi manis tentang seseorang dari masa lalu.

masa lalu hanya indah
bagi orang-orang yang tidak menyentuhkan kakinya
pada masa kini.

(3)

matahari membuat orang mengurus hal-hal tertentu di dalam ruangan.
mengurus uang negara dan selingkuh, misalnya.
tetapi tidak ada matahari sore ini.
dia takut tenggelam dan tidak bisa terbit pada hari rabu.

kafe ini dipenuhi lagu yang menghancurkan dirinya sendiri.
sementara puisi ini adalah jalan-jalan baru di tengah hutan.
kata-kata adalah pepohonan yang bertumbangan.

kau dengar derak mereka?
seperti dada teman-temanku yang jauh.

*

ada kalanya puisi seperti cinta.
tidak tahu di mana harus berhenti.

(4)

pelayan kafe mengamati langit dari jendela yang lain.
barangkali dia saudara kembarku. saudara adalah puisi yang selalu lupa dituliskan. puisi tidak tahu tinggal di rumah. sering pura-pura jadi pengembara.

aku ingin melupakanmu—dan mencari tahi lalat ibuku di wajah pelayan kafe itu.

tangannya menyalakan lampu seperti kesepian yang datang dari masa lampau.
aku ingin dia memadamkannya. lampu tidak perlu menyala sebelum betul-betul gelap. kita mesti memberi kesempatan kepada bayangan untuk bertukar dengan tubuh lain.

*

setiap hari adalah kekasih yang gagal mengucapkan selamat tinggal.
kadang-kadang kau yang harus tega mengecupkan selamat jalan.
dia barangkali sudah terlalu sakit untuk pergi—
seperti matahari yang takut tenggelam hari ini.

2013

 

 

Sajak ini pernah dimuat di Koran Tempo tanggal 28 Juli 2013

 

M. Aan Mansyur tinggal di Makassar dan bekerja di Komunitas Ininnawa. Kumpulan puisinya, antara lain, Aku Hendak Pindah Rumah, Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita, Cinta yang Marah, Melihat Api Bekerja, dan Tidak Ada New York Hari Ini.

Iklan