Sajak Muhammad Daffa

Muhammad Daffa
Sajak tentang Tiga Pengungsi

Kumandang khutbah menggema ke tiap dinding-dinding kota. “perang akan selesai, asalkan tuhan masih disebut dalam tiap doa.”
Seorang tak berumah, laki-laki yang berwajah lugu, datang bertamu ke sebuah menara, ketika siang nyaris jadi.
“Namaku Ashgar, calon pengungsi yang tak ingin perang ada.”
Seorang perempuan tua, yang menunggu antrian untuk masuk menara, tertawa dengan liur yang kecut.
Sejauh mata memandang, gurun tetaplah kesunyian. Kelaliman akan usai sebentar lagi, sebuah firman datang pada Ashgar,
“Pergilah kala malam semakin larut, bawa dua orang lain dan seekor anjing suci.”

2017


Muhammad Daffa
Tenda Pengelana

Kau mengatur rencana dengan siasat matang
Sedangkan lima ahli sajak tertunduk di bawah tenda tanpa berbisik.
Seolah kelewang bermata api siap menumbang nyawa-nyawa
Tapi tak juga kau dengar dengusnya waktu mengintai
“Sebab kita mencintai kekosongan yang fana.”

2017


Muhammad Daffa
Perjalanan Kereta Dini Hari

Subuh dimulai dari sayup bilal di suatu surau
Tubuhku terpekur di lorong kereta. Mengira tuhan datang dengan celoteh tentang surga.
“Jangan dulu, Tuhanku. Masih ada yang ingin kukerjakan dalam suatu pelarian dingin.”
Sebentar lagi kota akan menyambutku tanpa tawa berderai seperti dulu.
“Kamu penjahat buronan yang paling dicari, bila pulang akan digantung pada tiang alun-alun.”

Kota yang tak ramah dalam penyambutan seorang ekstremis, doaku akan membuatmu berhenti mencela sewenang-wenang.
Pelarian terlalu buntu dalam suatu waktu senyap

2017


Muhammad Daffa
Catatan Penyair Rezim

Di bawah matahari pada sebuah Minggu asing, dua orang anak berlari menuntun seorang penyair. Katanya, “kemerdekaan itu nasib, dan kemakmuran hanya omong kosong seorang pembesar.”
Lalu, bagaimana dengan Tanah Air?
Apakah hanya mimpi proletar, di bawah rezim yang dingin?

Akhir Mei yang menyedihkan, kabar itu sampai kepada demonstran kota,
“Penyair kita telah tumbang, mayatnya tak ditemukan. Mungkin mereka hanya menembak arwahnya yang ruah. Sedang tubuhnya bersidekap dalam ruang yang lain.”
“Sampai batas yang ditentukan?”
“Sampai batas yang ditentukan.”

2017


Muhammad Daffa, Lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. Menulis puisi di sejumlah media massa. Buku kumpulan puisi tunggalnya berjudul Talkin (2017). Tinggal di Banjarbaru.

Iklan