Sajak-sajak Agustinus Rangga Respati

Agustinus Rangga Respati
Puting Ibu

Puting; sendang wangi yang suci
di dalamnya, ibu meracik nasib,
tekun meramu mimpi
Menjadikan darah jadi susu

Puting ibu tempat angker yang gelap
di dalamnya tersimpan nglindurku yang lelap

Puting ibu menjelma inang
sedang bibirku ganggang susah makan
ibuku diam, aku menghabiskan

Lima bibir sudah numpang kecup dari puting ibu,
Kini; mereka cari kecup lain untuk hidup
meski ku yakin, kecupnya tak se-puting milik ibu
Aku akan bersaksi
Di puting; lain milik ibu
“Tak ada puting yang paling penting selain ibuku”

(2016)

 


Agustinus Rangga Respati
Pada Bulan Oktober

Kendati sudah Oktober
hujan belum juga hendak menjamah bumi
rindu tanah tak terbalas
hujan yang urung ingkar janji
Sebenarnya juga tak mengerti
kenapa kemarau begitu serakah
memakan sisa tahun
yang terlanjur mesra dengan hujan
dan angin-angin tropis
dengan gigil-gigil orang patah hati
yang sedang berpisah pada lambaian
Di teras yang gerimis
air mata dan air hujan bersama
menghunjam gumpalan tanah basah
mengingatkan pada perpisahan
di akhir tahun adalah kemesraan
hujan dan punggung-punggung tanah
Pada teras bulan Oktober
hujan melambai pada kemarau kering
yang bergeming
“Selamat hujan kemarau, semoga tidurmu basah.”

(2015)

 


 

Agustinus Rangga Respati
Teras Hujan

Pada musin-musim hujan seperti ini
puisi akan mengalir deras
Seperti hujan di beranda rumah
yang ditampung oleh batuk
Seorang kakek menunggu
loper koran lewat deoan rumah puisinya

Puisi yang malu-malu
mencuat kecil dari balik tagihan koran bulanan
“Ini awal bulan Kek. Silahkan bayar.”
“Ini awal puisiku sialan. Ambyar.”

(2015)


Agustinus Rangga Respati
Sanjak Buku

Pada buku-buku yang tercetak rapi
di siku-siku rak kayu
Tertatah ribuan cangkir kopi yang
dibungkus suara jangkrik, dan
kelip kunang-kunang
setiap bunyi “tik” pada jam yang
terpatri di dinding
mengayunkan kata demi kata terjun
bebas dari kepala menuju ujung jari
yang kian licin
Pada buku-buku yang diatur menurut abjad
tersimpan raungan bayi manusia jam tiga pagi
minta susu kata dari buku yang belum juga siap di baca
Tersimpan selipan-selipan tagihan
listrik dan air yang mestinya gratis saja
Tersimpan resep obat batuk dari dokter di klinik
Pada buku-buku yang dicetak rapi
tersimpan doa bagi masing-masing
siku yang terluka karena obat merah mahal harganya

(2015)


Agustinus Rangga Respati tinggal di Jalan Ampel 18B, Papringan, Sleman, Yogyakarta.

Iklan