Sajak-Sajak Ahmad Yulden Erwin

Ahmad Yulden Erwin
Improvisasi

Aku pergi
-Tanza

1

Hujan belum turun pada baris sajakmu,
juga ke jalan berbatu dan atap rumahmu.
Malam yang tersangkut ranting kering

tak juga bergeming oleh tatap matamu.
Kau tahu, semua mesti berakhir, seperti
bangkai capung yang terinjak sepatumu.

Pintu. Debu. Remah roti. Semut-semut
merayap di toples gula. Segalanya adalah
mimpi yang terbakar di telapak tanganmu.

Tak ada yang kekal, juga bayangan bulan
yang terpantul pada kedua bola matamu.
Sepatu kautaruh di raknya. Baju, celana,

singlet, sempak: kaugantung di samping
jendela. Kautatap tubuhmu di depan kaca:
Bukan sabda. Bukan kata. Bukan tanda.

 

2

Tak ada satori saat kautatap percik hujan
di nako jendela kamarmu. Tak ada kensho
saat petir menyergap gendang telingamu.

Kau tersenyum memandang kotak sampah
di pojok ruang tamu. Waktu telah menjadi
segelas air bening yang mengalir perlahan

di dinding ususmu. Kau tak lagi menatap
arloji di tangan kirimu. Kaubiarkan saja
detik-detik memercik pada tiga larik haiku.

Kautatap bunga-bunga krisan di meja tamu.
Kau tertawa. Semua menjelma metafora:
Bukan suara. Bukan udara. Bukan cahaya.

 

Sumber: Kompas, Minggu, 21 Juli 2013

Ahmad Yulden Erwin
Buku Mimpi

Menguap ke tebing
cahaya – hiu, cumi, gurita
dilarung ke selat gema

Hitam kepiting membuih
ke putih mata, kuning tripang
berenang ke teluk warna.
Tengah malam itu kau bangun
menyapu sehalaman kosong
buku mimpimu. Pikiran sekejap
mendesir lenyap ke pasir waktu.
Bayang menghilir ke lututmu.

Sepasang sandal melangkah tenang
menjemput maut di mata kakimu.

Sumber: Kompas, Minggu, 21 April 2013

Iklan