Sajak-sajak Astrajingga Asmasubrata

Astrajingga Asmasubrata
Tak

Demi amis laut di mulut angin utara
dan pekat tahi yang menggelimang
di kelopak matamu, jangan kecupkan
ranum bibir itu jika hari masih bersih.
Jangan kecupkan, sebelum purnama
penuh memantul di kolam ikan koi
lalu kau temukan Li Po mabuk di situ.

Pada saatnya nanti, sajak-sajak akan
menggantikan isyarat untuk senyuman
yang kau luruhkan di bibir ranum itu
seperti gerimis lembut dari arah timur.

Siang terlalu siang, Sum, terlalu terang
dengan sengatan ultraviolet ingatan
juga bau kecut angan ihwal segala ingin,
sedang masa depan yang kita pilih tak
pernah dianggap baik oleh masa silam.
Mungkin, ya, mungkin keinginan adalah
satu-satunya hasrat yang paham akan
kelam akan kalam ditaswir seorang saleh
di sebuah acara televisi usai subuh.

Dalam wajah yang nyaris sama sayup
dengan bunyi waktu, seolah tapi tak
seolah kudengar sajak dari katup bibir itu
dan seekor burung gagak — dengan malam
pada bulunya — hinggap di kepalaku.
Apatah, apatah keduanya kekal jika intiha
tercipta dari mula pada tiap yang fana?

Di kolam tak memantul purnama
tak ada Li Po dan seguci tuak.

Demi embusan kesunyian yang muskil ini
serta perengus kamus besar aneka bahasa
dalam dekapan dadamu, jangan kecupkan
ranum bibir itu jika sajak yang kau baca tak
malih menjadi karunia dan yang kau baca
tiada berkarunia masih sebuah sajak. Tak.

(Pondok Bambu, 2016)


Astrajingga Asmasubrata
10 Menit Sebelum Penonton Tepuk Tangan

: buat Almuhtadi M.D

dengan rupa seekor serangga
ia menyelinap ke helai-helai rambutku
dicarinya usapan lembut tangan ibu
yang membuatku terlelap. sejak saat itu
aku selalu terjaga menemani dada
memungut denyut kata-kata
pada sebuah adegan
di panggung hitam

sebelum siang aku membuka jendela
gemawan seperti bercak eskrim
di kaos kumal seorang bocah
seberang lampu merah. gedung-gedung
memupus bayangan di belakang
tubuhku, meringkus menit dan jam
yang menjulur di tiap helai rambutku

petang hari jantungku mencari dada
gemuruh suara kesunyian kata-kata
yang menyaru lirih doa ibu
menempel di selembar tiket teater
tepat saat seorang aktor merayap
bagai serangga
menyelinap di helai-helai rambutku

10 menit sebelum penonton tepuk tangan

(Pondok Bambu, 2016)


Astrajingga Asmasubrata
One Night Stand

akhirnya kita pun berjumpa setelah kau
juga aku sekian lama mengembara
pada serangkaian peristiwa. peta itu
yang kita tulis dengan air mata dan nanah
terbakar sudah oleh 33 matahari dari
dzikir cinta yang kulangitkan, sementara
kau khusyuk dengan doa paling tahir.

kini kita berada di kamar impian itu:
ada tubuh lelaki menggelinjang bagai debu
dihempas kuda para kafilah di basrah,
ada tubuh wanita telentang bagai jembatan
dititi erang demi erang. jiwa kita menyatu
raga kita saling menyentuh hingga peluh
menjelma alir nil menghanyutkan musa.

dengan saling menatap kita teringat kisah
adam dan hawa, yang keduanya telanjang
di jabal rahmah.

2016


Astrajingga Asmasubrata
Kidung Tabung Inpus

Bening apa pada tabungmu
— air kelapa atau sari tebu
meluncur dalam selang dan jarum
di punggung telapak tanganku.
Kurasa, aku sudah pulih kembali.
Tapi mengapa senyum suster itu
tak percaya. Masih rutin menjejali obat
yang pahit total tak seperti senyumnya.
Selengkung bibir paling jambon. O, ia
memiringkan tubuhku menyibak sedikit
celanaku. Lalu, ah, jarinya yang kapas
mengusapkan cairan dingin di pantatku
dan tusukan-suntikan mendarat mulus.
Aku tak mengerang walau mulutku
menganga. Sedang napasku, napas dari
hidungku terengah lantaran paru-paru
mendadak berhenti memompa udara.
Lalu lantunan ninabobo ibu timbul-tenggelam
— atau suara Kekasih yang merindu
di tepian dipan kayu berpolitur cokelat muda.
Tiga menit menjelang tengah malam, tubuhku
seperti gedebok pisang yang ditebang ayah.
Kaku. Tapi mataku belum terpejam.
Masih kulihat tetes demi tetes cairan
pada tabungmu. Lambungku menggeliat
meminta jatah asupan makanan selain kamu.
Tidak ada sesiapa selain detak jam dinding
yang terdengar asing. Angin membelai tirai
membawa sesuatu dari masa silam:
Gunting kuku, kaos kaki, serta cermin.
Aku tidak ubahnya benda-benda,
ketika Kekasih tampak tiba nun di sana
— antara kamar mandi dan lukisan
sembari membopong sebuah gentong
berisi amal ibadah yang sompong.
Lalu kamu berhenti menetes. Tes!

2016


Astrajingga Asmasubrata
Garis Putus-putus

ladang tebu di balik rindang bambu. pemandangan manis di siang
berpeluh. kereta api dari arah telinga kiri menyapa. cirebon;
bau amis beton-beton mall — zona strategis. seorang buntet pesantren
yang sarung basah kuyup di kali ilmu. aku cuma enyah. tidak
di sana bukan di sini. entah. kicau merdu kepodang membopong
sunyi ke dalam kitab kuning. iman terasa lebih ringan dari bebunga
tebu mengelupas. beterbangan sekian cahaya. lesat. melesap.

aku masih terasing. mencari siapa di antara apa perihal nama.
garis putus-putus. hujan. sunyi tergilas laju becak. bayangan
rantau menyelinap ke dalam pejam. pintu angan tersibak. uang.
seorang buntet pesantren duduk-duduk di jembatan kereta api.
bebek dan kerbau melintasi kali. kemarau datang terlalu dini
usiaku bertumbuh dengan nyeri dari berhektar sawah minus padi

“santri putera sebelah kanan, santri puteri sebelah kiri!”

hafalan surah dan alfiyah. lengket di tenggorokan. lumpur kali
menyapa kereta api — membopong merdu kepodang– mengelupas iman
aku menemukan aku dalam wujud seorang buntet pesantren
dengan pantulan sekian cahaya kitab kuning dari makbaroh:
kesunyian paling puitis yang tidak terdengar hingar sebuah mall
dalam balutan label harga, pajak pembelian, dan tipuan diskon

bayangan rantau melesap di balik rindang bambu. bismillah!

2016


ASTRAJINGGA ASMASUBRATA adalah orang muda kelahiran Cirebon, 1990, yang banyak berkeliaran di Jakarta, yang sedang sangat gigih menggali potensi kepenyairan dalam dirinya. Buku kumpulan puisinya terbit tahun lalu Ritus Khayali (Ganding Pustaka, Yogyakarta, 2016).

Iklan