Sajak-Sajak Budhi Setyawan

Budhi Setyawan
KIBARAN CELANA WAKTU 

: teringat joko pinurbo

ia lelaki ceking dari kampung di timur kali yang selalu
bercelana hitam saban hari. ia lupa sejak umur berapa
celana itu menempel di badannya dan tak pernah lepas
meski sedetik saja. ia bahkan tetap bercelana saat
mandi, juga ketika berangkat ke dunia mimpi. celana
dan ia sudah seperti sejoli yang saling mengerti, meski
kadang tercium bau pesing sampai ke hidung puisi.

malam adalah belahan waktu yang menggemaskan dan
membusungkan kepolosan masa lalu. sebab bersamanya
bisa mengingat pada masa kecil, serta kepada bayi
mungil kerabat dekat yang tak bosan mengunggah tangis
dan tawa kepada orangtuanya, juga kepada siapa saja
yang melihatnya. bahkan bayi terlihat semakin lucu saat
tak bercelana, seperti mengatakan bahwa kekecewaan
dunia cuma bercak tumpahan susu yang segera lenyap
oleh alir air kencing sepancaran saja.

tiba tiba lelaki itu sangat ingin menjadi bayi, dikerubuti
ibu ibu muda seksi dan berebut mencubit pipinya yang
montok sekali, kadang malah dengan bonus diciumi
berkali kali. maka di dalam kamarnya, lelaki itu
mematikan lampu, menutup kain gorden dan jendela,
lalu membuka celana yang telah bertahun tahun lekat
terpasang hingga membuat garis membekas melingkari
perut dan pinggang. ia menaruh celananya di paku besi
yang termangu di dinding sepi. celananya berkibar
ditiup angin dari masa kanaknya, yang telah menjauh
dan tak terkejar dengan pacuan seribu kuda. ia ingin
berdoa dengan sepenuh ketelanjangan mengulurkan
permintaan kepada Tuhan, meski akan dikatakan lucu
dan suara tak merdu. tetapi tiba tiba terdengar celoteh
dari bagian bawah tubuhnya: ternyata dunia ini luas
lega, tak sepengap di dalam celana.

Bekasi, 2017


Budhi Setyawan
ASU PADAMU

: teringat joko pinurbo

kurasakan ada cakar kaku kuku runcing mengarsir
wajahku, mengusapkan pesan bahwa ada yang luput
dari liput dan belum tersampaikan padamu. ada gagap
pada gugup karena terlalu gegap sinyal sinyal
keterkejutan hingga terpelanting kata kata oleh gaung
teriak yang meraung di benak: kini jarak takut datang
pada kita, terbirit birit untuk berhadapan dengan
keberanian harapan yang sederhana.

sekilas pertemuan serupa kilat di langit sore, mungkin
jadi penerang sesaat dan memberi isyarat: tak lama lagi
akan gelap dan tak seberapa banyak nasib yang seperti
sulap. letupan kesan yang muncul terburu seperti
kibasan ekor anjing dikejar tatapan para seteru di
lorong lorong tafsir, dan ketika lelah begitu buas
mencengkeram menunggangi, akan terjulur kata kata:
biarkan semua apa adanya mengalir.

tetapi dalam tubuhku bermukim kemudaan yang sigap
berontak mengoyak sekat kesepian. kini begitu tak
tertahankan, terasa mendesak seribu gonggong saat
bibir malam hampir mencium angka duabelas, dan
menjadi paduan suara yang ganas sekaligus cemas.
mereka bersikeras hendak menyerbu, katanya telah
lebih dari tujuh bulan mendendam rindu pada tulang
tulang puisimu.

Bekasi, 2017


Budhi Setyawan
MENJELANG MAGRIB 

keriuhan suara perlahan mengendap dan reda
kini bisikmu mulai mengetuk dan terdengar ada

Bekasi, 2017


Budhi Setyawan
SEBELUM LUPA WAKTU 

wahai Tuhan yang muram dan pendiam
ijinkan aku bersembahyang dalam telepon genggam

Bekasi, 2017


Budhi Setyawan
SAJAK DOA

dengan panggilan lirih nyaris tak kedengaran
dan mata terpejam
orang orang berjalan menuju Tuhan
yang bersemayam di kejauhan diam

Bekasi, 2017


Budhi Setyawan
PELUKAN

pelukan adalah bagian pengetahuan dari kitab lama,
namun tak pernah kedaluwarsa untuk dibaca.

Jakarta, 2016

 


Budhi Setyawan, penyuka puisi dan musik rock. Mengelola komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Nyalakata. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Iklan