Sajak-sajak Dody Kristianto

Dody Kristianto
Ferdi Menimang Kucing

aku ingin menepikan pandang ini dari kau yang menimang di depan. tapi tatapanku tentulah anak yang durhaka, atau umpama akar tercerabut dari tanahnya, atau lebih-lebih bebintang yang bosan di langit dan ingin rebah di atas kepala. tak baik bila kau mengira yang ditimang tak lebih dari tubuh mungil yang dibekap dalam malam hikayat.

bisa jadi kau lebih serupa yang tertaklukkan, tertundukkan. dan yang kau rengkuh kini tengah menyiapkan geliat kidalnya (ah, mungkin itu sekadar gerak kanan yang tak sempurna).

lalu, bagaimana bila cakar itu tuntas diasah dan tak ada lagi yang harus disembunyikan? rupa-rupa ketajaman ternyata harus disimpan di sanubari. harus mahir kau selaku penggendong. tabahlah membaca muslihat di balik ketenangan laku timang-timang. bukankah, lonceng itu telah kau kalungkan dan ia yang berdiam terlihat tak lebih hanya pesakitan yang kau simpan di pangkuan.

sungguh aku ingin alihkan pandang bila yang kau timang itu lagi menyiapkan kesamaran terkam.

(2013)

 


Dody Kristianto
Mencintai Gerak Kucing

Saat mati macan itu abadi dan menjelma gerak tak terkira.

Tapi ia bukanlah yang tua dan kau benar tak hendak berkata tentang pelbagai ikhtiar gerak, baik mengepal atau mengarahkan yang memuncak. Bukankah jihad baru adalah itikad menundukkan itikad lagak lunjak dalam badan serta menyaksikan kelenturan tingkahmu menipu tatapan basi para tualang.

Tak salah, lihai pula ia menuntun keliaran jelujuran ular dalam keselarasan tarung tiba-tiba. Lantas, benar jinak dan melunak yang melayang di atas. Tingkah sungguhnya serupa penjala bintang yang lihai meramut sebarisan majas dan rima. Harusnya, kau berguru pada gerak mengeruk tanah yang ia ajarkan sebelum tersesat dalam kekakuan inti silat.

Ancang, permulaan, dan kuda-kuda sesungguhnya tak lebih dari kebangkitan dari tubuh yang melemah. Seberapa banyak penggambar mampu mengabadikan laku lentur lagi kuat lagi tak gentar pada yang tinggi di hadapan.

Bukankah, keselarasan gampar, sapu, dan sikat memang didapat kala cakar itu menggambar di atas lemahnya bantal.

Jangan percaya pada tendangan para jagoan sebelum tuntas kau mengaji pada kekukuhan kaki kala merentang. Atau loncat selanggam saat yang menghadang serupa tembok yang harus dilunaskan.

Bila tampang nan fiksi dan semenjana belaka itu benar lihai merangkum kegalakan, mubazirlah kau menyeru angin dan memohon kesempurnaan silat pada jawara yang tak jelas arah tuju itu.

(2013)

 


Dody Kristianto
Mencintai Gerak Kucing

(1)

naga lepas ke langit
tanah pelan bergerak
tubuh di atas beku
sepanjang perjalanan
daun jatuh tenang
kutunggu keliatanmu

(2)

Kuterima ketenangan atas kamu
Tapi kuyakini gerak perlahan
Udara norak bukan sekutu bijak
Aku diam atasmu

(3)

Bila ingin segera, haruskah tubuh ini memerikan
Gerak hewan? Tapi bukankah yang segala kelembutan
Belaka? Dan laku menyalip pasti berangasan tak lebih
Dari jurus yang mubazir.

(4)

Lekuk langkahmu berkah nan sarat keindahan
Larimu juga bukan sekadar tingkah sabar
Mengimbangi laku kuda yang lupa jalan belakang

(2013)

 


Dody Kristianto
Babon Kucing

Kembalilah ke dalam kandang. Balikkan badan. Pindah arah ke belakang.
Sarungkan. Sembunyikan seringai. Akan abadi engkau
Ke dalam gerak.

Tidak. Gerak sekadar
Taklah sanggup mengindahkanmu.

Sebab peringaimu telah terangkum dalam pandang semesta.  Pulang saja dan sempurnalah
Di dalam halaman. Pembatas. Pojokan. Atau pada baris-baris tipis yang memapar
Keliatan lekukmu. Keindahan bentukmu. Kembali saja sekarang ke dalam tubuh pustaka itu.

Agar dapat kau simpan kelak segala tenaga. Untuk mengancam yang berada di sana.
Di kejauhan. Dan tersimpan dalam dongengan api. Yang abadi dalam sajak.

(2013)

 


Dody Kristianto
Lenong Kucing

akulah yang kau seru jika kemerincing itu dapat kudengar jauh di bulan. lantas, inikah cara terbaik memulakan perjumpaan?

cakar-cakarmu telah sarat garam dan tuntas sudah kau menenggak yang merambat di hadapan. menyeru dan berbunyilah bila kemerincing ini sebenar-benar pesan tantangan.

tapi, aku tak hendak meringkusmu. aku hanya ingin mendiamkanmu. dalam sajak. dalam bahasa. haruskah tetap kunamakan ini tarung tak bernama bila hakikat pertemuan hanya sekadar memelukmu yang tak terangkum sempurna dalam kitab.

(2013)

 


Dody Kristianto
Menyajakkan Kucing Pulang

untuk pulang, bisikkan ketabahan. berucaplah. jangan alpa akan pandang yang wajib ke depan. depan belaka. tepikan yang menguntit di belakang atau yang berusaha menyasar dan bersengkurat di kiri kanan. sabar saja. dan berserah pada gerak lamat perlahan. atau sesekali memeri langgam lentur lepas yang mahacepat. pasrahkan hidup mati pada empat pengiring sejalan. mereka yang mengerti mana jalur yang tak disarati penunggu nan usil. atau makadam seseram tengkorak yang menyimpan rawan dan sawan sepanjang perjalanan. percayakan saja pada mata penembus samar yang mengerti benar kaki mana yang harus dahulu memijak halaman. bila aku sekadar penyair mabuk yang menangkap gerakmu, mungkin kau tak lebih dari sajak luput yang lepas di depan tatapan. sebab kau yang diagungkan segala pustaka lagi mengerti laku lunjak dan lunjak. bila telah sempuna benar keseimbangan, kau yang memejamkan mata pasti tak lagi mengenal perihal jatuh. dan aku yang tergesa mencatat takkan dapat menangkap kesabaran lagi menyimpanmu pada sajak yang terus menampikku.

(2013)

 


Dody Kristianto
Sego Kucing

di tepi sana kamu memang menunggu aku. lalu datang jam-jam malam yang gasal. benarkah, telah diam-diam kamu lupakan aku? kamu sepikan aku dari dongengan hingga kamu tak mengenang lagi segenap perjalanan.

dan inilah ritus sempurna segala penghindaran.

sebagai yang berserah, aku berusaha benar menempuh jalan kegaiban menemukanmu kembali. kutawar reruncing ayam yang menunggu. kusediakan segenap yang tak lagi sempurna dipandang. kutabahkan diri bersama yang terbakar untuk pulang pada mimpi.

benarlah sudah, kamu tak akan lagi mengenang wajah ini. aku hanya karang gelap kini atau layar hitam yang tak lagi berupa yang akan menemanimu dalam tualang haram jadah.

(2013)

 


Dody Kristianto
Perihal Kloneng Kucing
kamu yang yakin aku tertempa dari baja, tidak dari besi yang telah beralih paku tumbuh di perutmu. mungkin benar bila yang kamu yakini pandangan dunia.

tapi, aku yang telah meringkas semua tangan dan kaki menjadi sebuah keutuhan bagi langkah dan gelagat. benarlah, sudah ditiup ruh pada pemanggil yang benar kaku ini hingga aku menyimpan kesemestaan ngiang yang menyerangmu kala kerinduan tiba.

sebenarnya, mata ini masih ingin lebur dalam kitab dan bersembunyi pada hikayat yang terucap pada malam-malam. aku mau dengan segala kehormatan menunggumu di tengah gelanggang. begitulah, bila tak ada lagi tarung yang harus dituntaskan di antara kita.

(2013)

 


Dody Kristianto
Mendarasi Musim Kawin

dengan semenjananya gerak, mungkin mampu kukidungkan sebuah sajak. tapi dengan tikam macam mana dapat kulantunkan satu sunting untukmu. memang khatam sudah kumemangku segenap gerak. tak kuragu lagi badan ini telah menubuh bersama lesat.

denganmu, dan denganmu, kegaharan silat berubah jadi yang tak tuntas. semua inti pencak yang kuserap benarlah tak menemu tepuknya. bahkan tetap tak sudi engkau meski telah berulang kumenyimpang dari yang satu.

duhai, yang kupijak lantas menyembul dari dalam. yang kuseru dengan langgam nyalang. yang kusembur dan kusebar bersama yang diam datang. segala ternyata tak berarti dan tak jua menuntaskan rayu yang bakal menambatkanmu pada penyair tanggung yang menunggu namamu abadi di dalam kitab.

(2013)


Tentang Pengarang

Dody Kristianto, lahir di Surabaya, 3 April 1986. Kini tinggal di Serang, Banten dan memelihara kucing kampung.

Iklan