Sajak-Sajak Galuh Puspita

Galuh Puspita
SETELAHNYA

Baru pernah kuperhatikan komputer kasir
di dalam kafe ini. Betapa ia begitu haus
dan kesepian sementara kami begitu
acuh dan membosankan.

Kami datang dan memesan
kopi. Lalu setelahnya waktu malih
jadi angin yang menggoyangkan rambut
serupa lonceng kuil terabaikan pengikutnya.

Kopi jadi pelumas dan kami kereta tanpa
stasiun. Satu teguk untuk jalan panjang
yang baru akan berhenti jika
cangkir kami telah kosong.

Komputer kasir melongok saat
kantong uang kami terbuka. Malang.
Ia menunggu, menelan lalu kehilangan.
Tapi kami lebih malang. Kami kehilangan

ditelan dan menunggu kembali dilahirkan.

Banyumas, 2016

 


Galuh Puspita
SEKELUMIT DOA

Aku ingin menjadi lengan yang pertama
menimang gelisahmu sampai ia tertidur.
Isak-isak yang sesak dan kumparan
amarah yang bernapas di dadanya akan
lebur bersama tarian kidung di udara.

Kau terbangun kemudian menemukan
duka yang mencengkeram pundakmu
tak lagi di sana dan kini kau mampu
menentukan arah terbangmu sendiri.
Aku menghadiahkanmu kejanggalan
dan kau menebak-nebak wajahku.

Sesungguhnya bukan sebab mantra.
Hanya puisi yang memelukmu dengan
kata-kata, menepuk-nepuk tubuhmu
serupa tangis kanak-kanak yang redam
dalam rengkuh ibu saat gerahamnya
tanggal.

Banyumas, 2016

 


Galuh Puspita
IRREVERSIBLE

Saat kecil aku gemar bermain jam pasir antik
yang terpajang di sudut ruang tamu sambil
menunggu ayah pulang dari kantor dan ibu
terbangun dari sepinya dunia ranjang

Dalam benakku aliran jam pasir seperti
napas yang tersengal di tengah perjalanan
saat berlari dari satu kota ke kota lain
Seperti tidur malam di mana aku merasa
entah nyawa tetap tinggal di kamar atau
berjalan-jalan ke langit sebentar

Setelah dewasa kusimpan ia di dalam
lemari dan tak lagi berani memajangnya
khawatir butir terakhir jatuh lalu jantungku:
deg!

Banyumas, 2016


Galuh Puspita
PADA AKHIRNYA

Kita pernah hidup di dalam sebuah lagu
sebagai lirik yang saling mempertanyakan
mengapa hati manusia bisa goyah dan
bersikeras menyayat tubuhnya sendiri.

Lirik lagu ini sengketa antara tubuhku
dan tubuhmu yang tak pernah usai
ribut dan berebut menjadi suara agar
jeritannya sampai ke telinga dunia.

Dan kita terlampau asyik–masyuk dalam
rotasi piringan hitam, larik ingatan
yang terus diputar ulang hingga
gramofon selesai dimainkan.

Banyumas, 2016

 


Galuh Puspita
TAKDIR

Menerawang ke dalam bilik di balik cekung matamu
melewati serat-serat benang merah halus terurai
Kutemukan tubuh sendiri bergelung tak bergeming
Memeluk mimpi yang nyaris pecah oleh kepasrahan

Di dalam mimpiku seorang anak perempuan tengah
asyik memindahkan biji-biji kopi di atas papan dakon
Ia memanggilku ibu dan meminta segelas susu
Ia memanggilmu entah dan mundur beberapa langkah

Bukan. Bukan. Bukan. Katanya.

Banyumas, 2016

 


Galuh Puspita
FIRMAN

Sepatah dua patah kata
yang dilisankan maupun
sunyi dieja dalam batin
dan telah diaminkan ia
tak selalu lekas mewujud
sayup adzan maghrib
Bukan waktu yang siput
atau ia sedang sibuk
hanya tertunda seperti
pembicaraan antara
segelas es teh dan
bibir kita di tengah
puasa

Banyumas, 2016

 


Galuh Puspita
KEPADA: KATA-KATA

aku kehilangan kau seperti perempuan
yang asing dengan ruang dapur
menatap kosong pada telur, kentang
dan daun bawang yang siapaun tahu
ia akan berakhir jadi seporsi perkedel

aku kehilangan kau seperti perempuan
yang asing dengan meja rias
bertanya-tanya mengapa ada enam lipstik dengan warna yang berbeda
sementara wajahnya cuma punya satu bibir

aku kehilangan kau seperti perempuan
yang asing dengan asin yang lahir
dari matanya sendiri

Banyumas, 2016


Galuh Puspita
IDUL FITRI

Di kota ini luka lahir dan mati
tercatat lebih kerap dari pada
data penduduk catatan sipil

Ia lahir dari pedebatan sarapan pagi
ayah dan ibu yang sengit lalu mati
saat keduanya mengeratkan pelukan
menjelang tidur

Ia lahir dari gerobak tukang sayur
dari bibir ibu-ibu komplek ke tiap-tiap
bibir pintu dan baru akan mati pada
hari raya Idul Fitri

Ia lahir dari kita setiap hari
lalu mati suri

Banyumas, 2016


Galuh Puspita, lebih akrab dipanggil Chan. Lahir di Banyumas, 1 September 1994. Menulis puisi, lettering, dan mengurus rumah tangga. Karyanya dapat dijumpai di instagram @chancoquett dan jemarikanan.tumblr.com

Iklan