Sajak-sajak Indra Sena

Indra Sena
Pithecantropus Januaresolucius

Kamu adalah pajangan dinding yang didera berbagai huruf dan angka. Membacamu akan sulit jika dilakukan dengan menutup mata. Harusnya kau ada di angkasa. Bersama bintang dan awan hitam dan juga seluk beluk Aurora. Kamu tak perlu sedih jika suatu hari kau dijadikan bungkus kacang atau cabai di pasar. Memang almanak begitulah nasibnya. Terima saja. Bulan pertama di tahun yang baru, aku mengurus nasib dengan rindu menderu ke kamu.

Selamat tahun baru kulkas, Kamu dingin. Sukar menebak apa yang kau ingin. Hidup ini akan terasa berat jika angkat barbel sambil makan ikan asin. Kadang perlu untuk menghibur bathin. Kadang perlu juga dikerokin. Semua ini terangkai pada Januari yang kurang suntikan vitamin.

Januari. Semoga kau tahu bahwa menulis puisi cinta itu susah rasanya. Apa lagi ketika tangan diikat ke kursi dan mulutmu disumpal. Cinta, cinta, cinta. Sebuah kata yang tersusun dari lima huruf berbeda. Dan banyak frase tentangnya. Puisi cinta terbaik yang pernah aku buat adalah doa tentangmu yang aku panjatkan ke tuhan sehabis sholat. Dia maha mengabulkan lebih dari kamu. Apa lagi si Heru. Ya si Heru. Teman yang ku pergoki sedang mainin burung di kelas ketika sekolah dulu.

Januari. Selamat datang kembali. Maaf belum sempat buat resolusi. Beli rokok saja masih sering di Mak haji Nani. Dengkulmu resolusi. Resolusiku setiap hari. setiap hari evolusi. Membuat yang lebih baik lagi.


Indra Sena
Pithecantropus Oktobroth

Oktober

Suatu hari Aku akan menjadi Aka kalau sedang salah nulis. Atau menjadi Aki, karena tua dalam bahasa Sunda, juga dlm bentuk komponen elektrik.

Oktober

Aku adalah sebagaimana Kau menyebutku. Membicarakanku dibelakang seolah Kau Maha Tahu. Dalam perbincangan di depan saat Interview.

Oktober

Aku dan Malam berteman sejak dulu. Ketika malam sudah kelabu, aku pulas dengan mimpiku.

Oktober

Apabila Malam, kepalaku mendadak rimbun. Tumbuh dahan dan daun. Ingat angan, ingat Timun. Timun? Terserah, namanya juga melamun.

Oktober

Katakan padaku. Siapakah pencipta jingle Tahu Bulat digoreng mendadak itu? Namun, aku yakin kamu tak tahu. Sama pula dengan bagaimana perasaanku.


Indra Sena
Pithecantropus Kapitanos

Jika aku seorang Kapiten yang mempunyai pedang panjang
Aku tak akan berjalan prokk..prokk..prokk
Aku lebih memilih diam-diam merayap
Sehingga tak mengganggu mimpi indah mu,
Sehingga aku masih bisa mengecup mesra kening mu
Jika aku Superman
Aku tak akan memakai celana berwarna merah
Merah bukan warna favorit ku
Malu, memakai celana dalam tapi diluar
Malu, aurat jika diobral begitu murah
Biar aku bawa kau terbang tanpa rasa malu
Aku memang bukan Romeo karena itu bukan nama ku
Kamu pun bukan Juliet karena nama itu terlalu jelek untuk mu
Aku hanya seorang kusir yang sedang bekerja mengendarai kuda supaya baik jalannya
Yang mengantar tiap senyum saat kau sedih
Menjaga mu ditiap mimpi buruk yang menghampiri


Indra Sena
Pithecantropus Froggius

Hey, selamat malam jiwa-jiwa yg kesepian. Sudahkah makan malam agar tidak mimpi kelaparan? Aku disini dari kejauhan, coba mendekat dan mengintip mu dibalik awan. Janganlah tengok dahan dan ranting krn tadi masih basah terkena hujan.

Hey, putri… Ijinkan aku mengecup kening mu. Ciuman terakhir sebelum mulai tidur mu. Selanjutnya aku berubah jadi burung kakaktua yg menclok di jendela. Hanya utk menjaga mu. Hanya utk mengusir tiap mimpi buruk yg akan merasuki mu. Hanya itu…

Tuhan tahu aku sedang rindu. Bukan rindu yg setengah mati. Karena mati tak ada yg setengah. Karena rinduku pun tidak setengah-setengah.

Kau tampak cantik malam ini. Aura kecantikan tanpa dandanan. Tidur tengkurep seperti katak dalam tempurung yg tenggelam di kobokan. Alangkah indahnya dirimu. Merah, kuning, hijau, kau warnai hidupku hingga langitku selalu biru.


Indra Sena
Pithecantropus Butterflyus

Kupu-kupu kecil hinggap di kamar mandi
Bagaimana aku tahu? Tentu karena sedang buang air disitu
Dia terbang rendah dan hinggap sekejap di ember hitam
Aku memandangnya, menerka sedang apa dia disini?
Apakah dia lebih memilih menghisap sari tinja daripada bunga?
Ataukah cuma menemani buang airku saja?

Lumayan lama aku memandangnya
Kupu-kupu masih hinggap dengan tenangnya
Aku sangka kotoranku semanis sari bunga
Buktinya ia setia sampai aku cebok dengan seksama

Kupu-kupu…
Aku bertanya padamu,
“Bagaimanakah masa depan ku?”
Kamu terdiam, dan malah masuk ke lubang pembuangan
Tersiram hanyut bersama sisa pencernaan
Juga bersama aku dan kenangan
Selamat jalan sayang, semoga sampai tujuan


Indra Sena
Pithecantropus Jrengeteh

Dalam cangkirnya, ia menadah tumpah do’a semalam yang dipanjatkan. Diaduk tehnya makin pelan. Tanda ia tenggelam dalam pemikiran.

Pada senarnya ada karat kuning keemasan. Denting nada mulai sumbang. Nyanyi tembang kerinduan tak bertuan. Gitarnya bolong. Sama seperti hatinya yang sedang lowong.

Dalam cangkirnya memantul sinar rembulan. Sekali sruput, dia batuk. Sesekali melamun, dia ditampar nyamuk. Cinta yang berkah adalah ketika berpisah dengan pacar yang bedebah.

Pada senarnya ada banyak nada berbeda. Ketika melagu, disatukannya sunyi dan cinta. Baru juga satu bait, dia sudah lupa. Lebih banyak na na na na pada lagunya.

Selamat malam gitar. Selamat malam teh manis. Semoga cita dan cinta berjalan sejajar. Semoga semuanya berjalan statis.


Indra Sena adalah pemilik akun Twitter @drainnase. Puisi-puisinya di atas disalin dari blognya:  The Pithecantropus. Di blognya itu ia memperkenalkan dirinya sebagai:  pria normal yg senang dengan kartun di minggu tiba, pengidola Lionel Messi dan Barcelona dan Persipura Jayapura, selalu menikmati musik apapun alirannya,  dan bisa merancang grafis serta konsep kreatifnya.

Iklan