Sajak-Sajak Jamil Massa

Jamil Massa
Execelsa

Mungkin kalian serupa.
Mungkin kalian berbeda—Tetapi, oh, betapa terasah
sebilah cemburu. Memburu dan membelah pembuluh tidur
pencatat kisah, yang telah memetik namanya serupa memetik
biji-biji tua dari ranting-ranting silsilah. Silsilah tentang ada
—atau yang pernah ada.

Kenalilah dia dengan dada yang utuh.
Dengan kepala yang tenang.
Sebab dia bukan satu-satunya yang telah dituduh
meneluh tulang hingga luluh seperti benang.
Menindih keberanianmu sampai pipih bak bayang-bayang.
Dialah yang melangkah, madah demi madah, dengan gerak menjauh
dari para penuduh. Dengan laku menyingkirkan kecut yang remeh
sembari menuju pelukan wabah.

Kenalilah dia sebagai kepiluan pulau-pulau Filipina,
atau duka sederhana yang tumbuh pelan tapi lancar, di sela-sela ilalang.
Saksi kekejaman kaum pembakar dan kaum penebang.

Mungkin, Saudara, dia mengira mata kita dicipta
sekadar untuk mengamati hidup yang sia-sia.
Sementara hidung mengendus aroma tak bagus
dari kemurnian yang dipuja. Kemurnian yang kerap tak ada.

2016

Jamil Massa
Racemosa

Tanyakan kepadanya cara mengagumi samudra,
deretan bakau, atau telau danau Santa Lucia.
Sebab bagian timur benua ini merupa gangren
di punggung petarung tua. Kain laken yang tak
diperlukan dalam perjalanan menuju tiada.

Tanyakan mengapa Kimamanauze mesti melongokkan kepala
ke dalam tempayan sebelum naik ke ranjang dongeng yang abadi,
sementara bola-bola mata mungil ini berkeras menyebut diri
biji-biji kopi.

Tanyakan kepada dia yang mengambil rupa bocah kurus alami—atau sesekali
rona jingga yang luntur dari bahasa Swahili—adakah yang lebih berbahagia
dari lengan-lengan kerdil yang ditopang hanya oleh udara?
Adakah yang lebih tulus dari tunas-tunas muda yang bebas rekayasa genetika?

Mengetahui muskil peluang, dia menyebar di sekitar angan-angan.
Memanggul jiwa-jiwa yang ringan.
Meminjam kaki sakit seorang Bushman.
Dengan kembang-kembang sukacita, kecambah-kecambah cahaya,
tiada henti dia buka sepertiga ruang lega bagi orang-orang yang sabar.
Agar tangan mereka leluasa dijulurkan
menyentuh jantung awan yang bergetar, berdebar, mendengar.

Maka junjunglah dia, hadapkan ke cakrawala.
Kecap dan ingat rasa mana sajakah yang mampu kau terima.
Sebab begitu mudah membayangkan kau mengecup dahinya,
bagian terliar dan terluar dari dirinya.

Satu kecupan akan membantumu memahami
apakah hilang itu, apakah tidur itu, apakah gairah itu,
dan apakah yang tak pernah dijanjikan itu.

2016

Jamil Massa
Kuil Kopi

: Baba Budan

Di kuil kopi, dia menghadap kiblat
membiarkan angin menghela jerih jintan kandas di jidat.

Umpama tujuh benih hijau tua
yang dahulu terperam pada lipatan ihram,
pada irinya yang iradat.

Tersembunyi bak kata-kata yang diperhitungkan benar
sebelum jadi doa pembuka minum pagi cara Malabar.
“Apa mau dikata, orang-orang Yaman amat pencela,” ujarnya
seusai menutup pertemuan.

Namun jemaat enggan beranjak
demi menyimak retak gunung dan sedikit komposisi di udara.
“Ceritakan, Baba,” bujuk mereka,“tentang niat lemah
yang membuntuti satu kafilah. Atau bagaimana pokok kecil di surga
mengempaskan kita ke jazirah mimpi makhluk yang kalah.”

Di sudut, lelaki tua itu diam, menghadap kiblat,
terpejam. Dia tahu sehelai belacu belum berubah bau.
Dan memangnya dengan cara apa sebutir batu bisa membantu?

2016

Jamil Massa, tinggal di Gorontalo. Menulis puisi, cerpen dan esai. Buku kumpulan puisinya berjudul Sayembara Tebu, dan, Pemanggil Air.

Iklan