Sajak-Sajak Mahmoud Darwish

Mahmoud Darwish
Bumi Mengimpit Kita

Bumi mengimpit kita, menjebak kita di akhir perjalanan.
Agar bisa lalu, kita tarik kencang anggota badan.
Bumi meremas kita. Seumpama gandum, kita mati tapi juga hidup.
Seumpama ibu, ia memaki kita dengan rasa sayang.
Seolah kita gambar bebatuan yang dilihat dalam mimpi seperti cermin.
Kita lihat wajah-wajah mereka yang menyabung nyawa, sebelum dibinasakan
oleh seorang dari kita yang terakhir hidup. Kita ratapi pesta anak-anak mereka.
Kita lihat wajah-wajah mereka yang akan melemparkan anak-anak kita
ke luar jendela ruang terakhir ini. Bintang yang akan membakar cermin kita.
Setelah batas akhir ke mana lagi kita harus menuju? Ke mana lagi burung terbang
setelah langit penghabisan?
Di mana tidur tanaman setelah udara tak bersisa?
Kita tuliskan nama-nama kita dengan kabut merah!
Kita akhirkan nyanyian dengan tubuh kita.
Di sini kita tiada. Di sini, di akhir perjalanan.
Di sini atau di sana, darah kita menumbuhkan pokok-pokok zaitun.

 


Mahmoud Darwish
Kami Berjalan Menuju ke Sebuah Rumah

Kami berjalan menuju ke sebuah rumah bukan tubuh kami. Ke pohon-pohon kastanye yang ada yang bukan belulang kami. Ke bebatuannya yang tak seperti kambing-kambing dalam nyanyian pegunungan. Ke butir-butir kerikil yang jelas bukan bunga-bunga lili.
Kami berjalan menuju ke sebuah rumah yang tidak melingkarkan matahari yang khas di atas kepala kami. Perempuan-perempuan dalam legenda menyoraki kami. Lautan untuk kami, lautan menentang kami. Kalau tak ada air dan gandum di tangan, makanlah cinta dan minumlah airmata kami…
Ada syal kesedihan bagi penyair. Sederet patung pualam mengangkat suara kami.
Dan sebuah guci menjauhkan debu waktu dari jiwa kami. Mawar-mawar untuk kami dan menentang kami.
Kau punya kemenanganmu, kami punya sendiri. Meski di rumah kami hanya bisa terlihat yang tak kentara: misteri kami.
Kemenangan itu milik kami: tahta yang diusung dengan kaki-kaki lecet oleh jalanan yang mengarah ke setiap rumah tapi bukan rumah kami!
Jiwa harus mengenali diri sendiri dalam jiwanya, atau mati di sini.

 

Dialihbahasa dari terjemahan bahasa Inggris oleh Munir Akash dan Carolyn Forche dalam buku “Unfortunately, It Was Paradise, Selected Poems” karangan Mahmoud Darwish.

pd2335975palestinian-writer-ma-5251


Mahmoud Darwish lahir di al-Birwa, Galilea, sebuah desa yang diduduki lalu akhirnya dihancurkan oleh tentara Israel. Karena melewatkan sensus resmi dari pemerintah Israel, Darwish dan keluarganya menjadi “pengungsi dalam negeri” atau “liyan yang ada-tapi tak ada.” Darwish hidup sekian lama dalam pengasingan di Beirut dan Paris. Ia telah menghasilkan lebih dari 30 buku puisi dan 8 buku prosa, juga mendapatkan penghargaan Lannan Cultural Freedom Prize dari Yayasan Lannan, the Lenin Peace Prize, dan Knight of Arts and Belles Lettres Medal dan Perancis.

Iklan