Sajak-Sajak Muhammad Daffa

Muhammad Daffa
PASAR MALAM

“Seonggok rindu yang kucuri diam-diam dari dadamu telah koyak” keluh seorang biduan di pasar malam.

Dua lelaki bertampang mulia, nyengir sebentar kepada biduan itu, sebelum mengutuk rembulan yang terbit di matanya.

Pasar semakin disesaki hiruk-pikuk musik, dan ocehan santai tujuh wanita janda.

Penyair yang tubuhnya ceking duduk di sisi terluar pasar, menyanyikan sebuah puisi

Dengan gitar yang kesepian di tangannya.

Malam penuh dengan suka cita, yang sayangnya kita tak tahu apa.

2017


Muhammad Daffa
KITAB SUCI BERMIMPI BURUK

Malam ini aku mimpi buruk, kitab suci berkata.

Kyai yang penasaran, mengobati mimpinya dengan ramuan nasib baik

Sayang, kitab suci tak bisa meminum ramuanku, ujar sang kyai sambil menepuk alas kakinya yang mulai uzur.

Masa lalu tak selalu luntur, kyai itu mendadak ingat dengan suatu petuah yang didengarnya dari seorang keturunan nabi.

Dan yang suci dari firman– mulai luput dari ingatan para negarawan.

2017


Muhammad Daffa
PUTARAN WAKTU

Waktu berputar jarum jam dua belas dentang

Tubuhnya hanyut terbawa arus tenang

Perempuan itu, mbok Darsih, terpingkal-pingkal ketika menyaksikan tubuhnya hanyut

Pada sebuah hulu tanpa muara. Malam harinya, stasiun televisi memberitakan perihal jasadnya yang baru ditemukan.

Dan waktu kembali berputar lebih cepat dari biasanya, mengambil apa yang tak kita inginkan pergi.

2017


Muhammad Daffa
BERMAIN DI MATAMU

Ayahmu melarangku untuk pergi berziarah ke dalam matamu

Sehingga aku mengutus bayang kata yang betah bermalam di dalamnya bila kau sedang rindu

Ibumu bilang padaku tentang penulis miskin di kota yang megah

Dan ia tidak suka punya menantu dari kalangan penulis.

Aku kapok main di matamu. Sebab di matamu banyak menyimpan separuh dari sebab kerinduan.

2017


Muhammad Daffa
TELEPON

Katakan padaku, kenapa tak kau angkat teleponku?

Seminggu semenjak datangnya kesibukan di kantormu, teleponmu juga ikut sibuk

Bersembunyi di antara riuh pegawai negeri yang bekerja seharian.

Katakan tentang satu alasan sibukmu, dan teleponmu yang gemar menyembunyikan dering.

Karena aku ingin bicara dengan suaramu yang puisi.

Telepon genggamku juga dilanda sibuk yang tak kalah denganmu

Dia bisa mendadak bising oleh getar-getar panggil, seakan ada kota terbangun di jantungnya.

Aku membunuhnya sementara, bila ia sedang mengeluh tanpa jeda.

Katakan padaku, alasan yang membuatmu betah dalam menunggu.

Nada dering yang cacat, atau ciumku yang singkat.

2017


Muhammad Daffa
CELANA KOYAK

“Celanaku sudah mulai uzur,” kau berkata seraya memegang kitab suci rentan gaduh

“Isinya pun sudah uzur, tapi masih mendingan daripada celana merek pasar rebo.”

Celanamu tampak uzur, garis-garis sisa jahitannya menggelembung.

Lebih baik buang saja, karena betapa usilnya ia menggodamu dengan bagian terkoyaknya.

Ketika pada akhirnya celana itu pun kau bawa dalam rapat antar desa, kau tak menyadari jika koyaknya sudah dijahit ibu dalam mimpi beberapa hari lalu.

2017


Muhammad Daffa, Lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. Menulis puisi dan cerpen. sejumlah karyanya pernah termuat di sebagian media massa dan antologi bersama. Kini tinggal di Banjarbaru. Kumpulan puisi tunggalnya berjudul Talkin (2017).

Iklan