Sajak-sajak Puput Amiranti

Puput Amiranti
HIKAYAT PINURBO

dalam jiwa remuk,
bapak tahu, apa itu artinya tua
ia berkendara kudakuda , jauh nirvana
atau aduh,
yang tiba tiba, tercelup dalam lubang
lubang sepatu

bungkus biru, lagulagu udara dan langit
bersama kibarkibar di dada, selembar bendera tak jatuh dari kitab
kitab revolusi, bapak tahu: kebajikan itu
seperti mengheningkan cipta, antara hias dan daras
alam dan batu, berdenyar denyar seperti mata
planet planet bapak, gerbang gerbang terbuka
kalimat pilin berganti, perumpamaan perumpamaan kini
berupa lampion lampion tua dalam gantungan perahu,
antara geletar naik turun, lelucon jiwamu, derai tawa panjang
renyai dalam hantu, lalu tiba tiba yang memeluk
nadir pada kenyataan, keyakinan bapak

di masa lalu, yang mudah terbakar,
lampionlampion tua itu, serupa anak cucu laron
terbang, tinggalkan sumbu, bapak; adakah
pengetahuanpengetahuan di situ
terbeli, tatkala sudah tak ada tukang patri,
dan musim bergeming lari, bak bias lekas,
gadis gadis dan pemuda ruah cuma
hapalan mantra, duri tak matang,
menatap langit

jiwa bapak yang jauh
meniris diam, dalam kaca kaca hari
pupur menggurat nilu, lampion lampion merah
bekas, tak usahlah lama
duka ditata, dalam kibaran sarung
wajah masih urut, merdeka

April 2017


Puput Amiranti
JOKO

engkau bikin lelucon,
di siang bolong, tak ada garis
maupun mimis

kadangkala iman jatuh
saat nadir tak kalahkan hadir
berdegap ia

sunyi sendiri seperti mati,
tawa dalam nyeri, sunyaruri
bangkit dalam daun duri

dan naga
pada sapa; kalimat bertahan

wajah wajah kami abadi
revolusi pergeseran
mangga kian jatuh rerumpang

dari ranting, sengit yang berbisik
engkau yang terlupa, cermin yang besar sendiri
pada lantur dan sendawa pun

renta, leluconmu bercecabang
dalam batas usia melolong di siang bolong,
tibatiba bengis

mundur memecah tangis, syair rumah
yang telah terbeli
jadi kenangan, celana, komprang

dan ranjang
kuburan
: ingatan abadi

April 2017


PUPUT AMIRANTI, lengkapnya Puput Amiranti Nugrahaningrum. Lahir di Jember, 24 April1982. Lebih banyak menghabiskan waktunya di pedalaman Kabupaten Blitar dengan menjadi guru dan pembina teater di sebuah sekolah di sana. Alumnus Sastra Inggris Unair ini, karya-karya puisinya sempat dimuat di pelbagai media cetak, online, dan radio, juga termuat di pelbagai antologi puisi.

Iklan