Sajak-Sajak Setiyo Bardono

Setiyo Bardono
Kopi Talua

Itik bertelur di segelas kopi panas.
Aku menyeruput lautan buih dengan rasa was-was.
Apakah kita bertemu di waktu dan tempat yang pas?

Ingatkah engkau kisah itik yang bercermin di bening telaga
dan berkali mematuki permukaan air karena merasa buruk rupa?
Ia mendapat balasan tak terduga, air kesegaran yang menyihir lidah kata.

Telaga itu, ibu, yang hatinya tak retak meski berulang engkau pecahkan.
Ibu juga rela hadir sebagai irisan jeruk nipis penawar amis dan taburan vanila
penyemangat rasa.

Saat engkau penat meniti hari,
jangan ragu melabuhkan lelah pada segelas kopi.
Pada buih talua, mungkin engkau akan menemukan wajah ibu
yang menuntunmu menetaskan puisi.

Tanah Abang, 7 Februari 2017

 

Setiyo Bardono
Kopi Vietnam

 

Awan hitam bergelantungan di langit ibukota.
Di meja sunyi percakapan, dua gelas kecil menyelami gigil.
Seperempat tubuh terisi kental susu. Sisanya, ruang bening
siap menampung keruh kesahmu.
Ini cara termanis menampung pekat hujan, batinku.

Sepertinya aku harus menyiapkan rongga dada.
Seperempat bagian ku tuang cairan putih prasangka.
Sisanya ruang hening siap menampung curahan makna kata.
Ini cara termanis menampung hujan rindu, harapku.

Rintik-rintik hitam gerimis menjanjikan rasa sejati.
Bisikmu, hati-hati kopi hitam ini pernah merubuhkan tubuh bidadari.

Di luar kaca, anak-anak bermain hujan menari gembira.
Seketika, aku ingin mengikuti jejak kaki mereka,
menjulurkan lidah mengecap asam hujan ibukota.

2017

 

Setiyo Bardono, Staf Redaksi http://www.technology-indonesia.com. TRAINer (Penumpang Kereta Listrik) jurusan Depok – Gondangdia, penulis buku Kumpulan Puisi Mengering Basah (Arus Kata, 2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (PasarMalam Production, 2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (eSastera Malaysia, 2012). Novel karyanya: Koin Cinta (Diva Press, 2013) dan Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014).

Iklan