Sajak-Sajak Sosiawan Leak

Sosiawan Leak

Pangeran Pengungsi

wajah siapakah terselip di antara pengungsi?
apakah itu kamu yang menghindari ledakan cinta
dan terpuruk dalam kebimbangan masa?
sejak mei; timtim, bali, aceh, ambon, papua, jakarta, dan entah nanti
bom ditanam sembarangan
tanpa mengindahkan rambu-rambu jalan.
sedang kamu masih asyik dengan catatan harian
tentang kenangan, kota bunga, dan impian pelaminan
atau tentang istana pasir di mana tertawan seorang pangeran
nyatanya, pangeran itu terjebak di barak pengungsian
miskin dan tersia
tanpa selimut, air, makanan apalagi mahkota.
wajah siapakah terselip di antara pengungsi?
sementara koran-koran hari ini mencetak darah
yang tumpah di tanah tumpah darah,
di halaman tengah
puisi cintamu nampang dengan gagah
tanpa busana!
sedang sang pangeran
berebut jatah makanan dengan seorang bocah
yang tersesat di gambar iklan
di halaman belakang.
wajah siapakah terselip di antara pengungsi?
kapan giliran kita terperangkap di sana?
solo, 19 januari 2000
 
 

Sosiawan Leak
Sahur di Lautan Lumpur
bau embun, basah tanah
dan segar udara
yang pulang dari malam kembaranya
ke fajar rumahnya
tak lagi teman makan sahur kami.
kini, asap asing dan bau misteri
sebagaimana merahasianya nasib, selalu berkelebat
berlarian di sela kerumunan
mengusutkan tikar, memainkan bayang-bayang
di dinding-dinding barak pengungsian
sesekali,
ada yang menyeringai di antara wajah anak istri
ada yang jumpalitan menjelma sayur dan nasi
ada yang merebut niat pasrah ke ilahi
sepanjang waktu sahur kami
ada pula yang menjelma sesal
dan umpatan
entah kepada setan atau untuk tuhan.
sementara pagar halaman, atap, dan wuwungan
yang kemarin dilumur lumpur dengan pelahan
seolah memanggil lemah dari kedalaman
tak menjelma riak, tak merupa gelombang
hanya diam
sediam waktu makan sahur kami
sediam waktu yang tak kunjung berlalu
melalangkan pilu demi pilu.
pelangi-mojosongo, solo
27 september 2006

Sosiawan Leak, bernama asli Sosiawan Budi Sulistyo adalah aktor, penyair, dan penulis kelahiran Surakarta 23 September 1967. Sejak tahun 2013, bersama dengan Heru Mugiarso menggagas Gerakan Puisi Menolak Korupsi. Aktif menulis naskah drama dan puisi, dan sejumlah penghargaan di antaranya dari Yayasan Hari Puisi Indonesia.

Iklan