Selalu Senyummu

Isbedy Stiawan ZS
Selalu Senyummu

selalu senyummu terkenang setiap kau pergi tiap pagi, meski tanpa pamit juga melepas ciuman. ia menggenang di ranjang, bufet, ruang tengah, ataupun jendela kamar. bunga-bunga akan mekar bersama matahari pagi yang memancar,

sekiranya kau pamit tiap pagi sebelum meninggalkan rumah ini, selalu senyummu akan memberi salam dan kecupan; dan ranjang, bufet, dapur, ruang makan dengan sendirinya akan turut menyalami. ia akan bangunkan aku walaupun semalaman mataku terjaga

mataku akan menerangi jalanmu. mataku pula akan membangkitkan setiap senyummu akan layu. seperti bunga selalu disiram agar tak kuyu, begitulah cinta memberi hidupnya bagi semesta ini. senyummu selalu kumaknai hidupku dan mengalirkan ruh apabila hatiku berpeluh

selalu senyummu menggetarkan bunga di pas yang kau letakkan di tepi ranjang, di atas bufet, ruang tengah—tempat biasa kita bercengkerama agar bisa membunuh sepi—dan akan kau sirami setiap pagi jelang kau tinggalkan rumah ini:

juga aku yang masih lelap sebab semalaman aku terjaga bagi cinta yang mungkin akan mati. aku menjaganya sebagaimana kulindungi hidupku dari hempasan gelombang besar itu…

/lampung, 2008

Iklan