Yona Primadesi – Kampung Janda, 1983

Yona Primadesi
Kampung Janda, 1983

Di Krakas, langit semendung hatimu
saat suamimu dihajar peluru,
dan ayahmu terperangkap nyala api.

Sementara udara Agustus
satu-satunya pakaian perkabungan
ketika pijar merah meletup dari kepala

dan dada anak laki-lakimu, atau
popor senjata meninggalkan surih
di antara parahmu, jadi jalur

sunyi monumen tanpa pemuja.
Tapi di tempat terpencil begini
kau hanya bisa teriak atau

terisak gemelugut. Tak ada yang
akan menyelamatkanmu, mengingatmu,
atau menginventaris nama anak laki-lakimu

pada catatan kaki sebuah buku panduan
kemanusiaan – sekadar ucapan belasungkawa.
Antara ranum buah ampupu di Bibileu

kau arak sisa ingatan, sembunyi
dari aroma mesiu, pekat asap, dan
gelegar hijau — mengubur masa lalumu.

Sesekali kau terpaku, kabut merayap
di matamu, ingat saat mereka seret
tubuh laki-laki di kampungmu

umpama sampah dari sebuah sejarah
hingga bau sangit, anyir darah, atau
jumlah tengkorak, semata pengingat.

Dan mereka menyebutnya, pembalasan!

 

Iklan